Belakangan ini, masalah kinerja wasit tengah mengemuka di Inggris. Sejumlah manajer beberapa kali menyampaikan keluhannya terhadap kepemimpinan sang pengadil pertandingan.
Boleh jadi karena saking tidak puasnya dengan kinerja wasit, beberapa manajer mengungkapkan kritiknya dengan kata-kata yang dinilai tidak pantas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persoalan wasit juga menjadi perhatian pemain, salah satunya Neville. "Saat ini wasit sedang menjalani masa-masa sulit. Namun saya harus mengatakan bahwa ini terjadi karena keputusan yang mereka keluarkan dalam pertandingan memang tidak bagus," ujar pemain belakang MU ini seperti dilansir dari Times Online.
"Memang tidak ada yang membantah bahwa menjadi wasit merupakan hal yang sulit. Namun mereka (wasit) juga dituntut untuk profesional," tukas Neville.
Pemain berusia 34 tahun itu menyumbangkan sarannya untuk mengatasi masalah wasit ini.
"Laga big match harus dipimpin oleh wasit terbaik. Wasit asal Italia Pierluigi Collina selalu ditugasi di laga-laga besar Liga Champions, karena dia sangat jarang membuat kesalahan."
"Kebijakan ini sebaiknya diterapkan juga di Inggris. Lebih baik menggunakan sedikit wasit-wasit peringkat elit di laga besar daripada memberikan semua wasit kesempatan. Laga besar sebaiknya bukan ajang untuk mencoba mencari pengalaman bagi wasit," lanjut Neville.
"Laga big match dimainkan oleh para pemain terbaik, mempertemukan dua tim besar, dipandu oleh komentator terbaik. Seharusnya hal serupa juga berlaku untuk wasitnya," tuntas pemain berkebangsaan Inggris itu.
Foto: Gary Neville (hitam) ketika menerima kartu merah dari wasit Chris Foy dalam laga Piala Carling antara Barnsley kontra MU, 27 Oktober 2009 (AFP)
(nar/roz)











































