Ian Watmore, FA dan PSSI

Ian Watmore, FA dan PSSI

- Sepakbola
Kamis, 25 Mar 2010 01:57 WIB
Ian Watmore, FA dan PSSI
Jakarta - Meski punya kompetisi yang sangat maju dan prestasi mendunia, jangan kira asosiasi sepakbola Inggris (FA) bebas masalah. Ian Watmore menjadi presiden eksekutif keempat yang mundur dalam delapan tahun terakhir.

Awal pekan ini sepakbola Inggris dikejutkan dengan keputusan pengunduran diri yang dibuat Ian Watmore. Mengejutkan karena dia belum genap setahun menjabat presiden eksekutif, dan fakta lain terkait kesiapan Inggris menghadapi Piala Dunia yang sudah didepan mata.

Keputusan yang dibuat Watmore juga disesalkan terkait upaya bidding Inggris menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 2018. Tapi toh dia tetap pada pendirian untuk meninggalkan Soho Square, markas FA di Kota London.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kabar yang beredar di Inggris menyebut kalau mantan Skretaris Parlemen di Departemen Inovasi, Universitas dan Skill itu terlibat perselisihan dengan pengurus FA lainnya. Beberapa media Inggris memberitakan kalau keinginan Watmore melakukan perubahan pada Premier League mendapat banyak tentangan.

Terlepas dari pertikaian politik di FA, keputusan Watmore seperti melanjutkan sebuah tradisi yang ada di organisasi sepakbola nomor satu di Inggris itu dalam beberapa tahun ke belakang. Soalnya dalam delapan tahun terakhir, tercatat ada empat nama yang mundur di tengah masa jabatan.

Yang pertama adalah Adam Crozier. Meski mampu memberi FA peningkatan pendapatn yang luar biasa besar, dia banyak dikritik lantaran membuka pintu bagi masuknya pelatih asing di timnas Inggris. Untuk kali pertama The Three Lions dibesut pelatih non-Inggris saat Sven Goran Eriksson datang.

Crozier juga dikenal sebagai orang yang melakukan perubahan besar pada struktur kepengurusan FA dengan memangkas jumlah anggota dewan yang sebelumnya 91 menjadi hanya 12 orang. Salah satu alasan dia mundur di tahun 2002 silam adalah munculnya kritik yang menyebut Crozier telah melakukan beragam hal yang melewati kewenangannya. Total, Crozier cuma bertahan dua tahun.

Mark Palios yang masuk sebagai pengganti juga tak berlama-lama duduk di kursi presiden eksekutif. Baru setahun menjabat, Polios menyerahkan surat pengunduran diri setelah media mengungkap skandal seks yang menimpan Sven Goran Eriksson.

Jiwa kstaria dan rasa tanggung jawan besar terhadap kondisi sepakbola Inggris juga ditunjukkan penerus Palios, Brian Barwick. Meski cukup lama menjabat presiden eksekutif, dari 2005 sampai 2008, Barwick lengser dari jabatannya dengan cara yang kurang enak. Dia mengundurkan diri setelah Inggris gagal lolos ke Euro 2008.

Kegagalan, minimnya berprestasi, rasa malu akibat sebuah skandal dan pertentangan di tubuh organisasi telah membuat beberapa pejabat presiden eksekutif FA memutuskan mundur.

Beralih ke Indonesia, entah kapan kondisi jiwa sportif dan mental ksatria seperti itu bisa terjadi juga di Indonesia (PSSI). Padahal otoritas sepakbola Indonesia yang kini sudah masuk tahun ketujuh di bawah kepemimpinan Nurdin Halid itu kering prestasi dari tahun ke tahun.

*

Dikutip dari Skysport, FA sudah menunjuk Alex Horne sebagai pejabat sementara presiden eksekutif menggantikan Ian Watmore. Di FA, angin perubahan memang selalu muncul dan semua terjadi demi terciptanya kondisi yang lebih baik dan tentu datangnya prestasi.

Angin yang sama semoga berhembus di Malang akhir bulan ini, saat Kongres Sepakbola Nasional (KSN) digelar.

(din/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads