Satu poin, itulah selisih yang membedakan MU dari Chelsea. Mimpi The Red Devils untuk meraih empat gelar secara beruntun pun kandas di tangan The Blues di bawah arahan manajer baru Carlo Ancelotti.
Giggs, meski sudah pernah mengecap 11 gelar bersama MU, tetap mengingat musim lalu dengan pedih. Hal tersebut tidak berubah dari situasi saat pemain 36 tahun itu menjalani musim pertamanya tahun 1992 di mana saat itu 'Setan Merah' dipecundangi Leeds United.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi kegagalan selalu berhasil melecut Giggs untuk memperbaiki diri, tak peduli dengan fakta bahwa ia sudah pernah meraih segalanya di level klub. Pemain asal Wales itu tetap selapar saat-saat sebelumnya.
"Kegagalan itu membuat kami makin bersemangat dan meski saya sudah mengecap banyak sukses, tapi saya juga mengalami banyak kekecewaan. Kekecewaan itulah yang membuat saya tetap punya gairah dan rasa lapar," kata Giggs.
"Setiap musim saya mencari tantangan dan saya selalu menemukannya bersama MU. Saya selalu tidak sabar menghadapi musim baru dan sangat bahagia bermain buat MU dan MU pun ingin mempertahankan saya," tuntas sang Welsh Wizard.
(arp/nar)










































