Ancelotti, yang langsung memberi gelar juara Premiership pada Chelsea di musim pertamanya berkarir di Inggris, dijajaki kesediaan dan ketertarikannya menjadi arsitek "Tiga Singa" setelah Fabio Capello menyelesaikan tugasnya di sana usai perhelatan Euro 2012.
"Kenapa tidak?" jawab pria yang kerap disebut Don Carletto itu dalam wawancaranya dengan Daily Mail.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua dari tiga pelatih terakhir Inggris tidak berpaspor negara kerajaan pimpinan Ratu Elizabeth itu. Sebelum Capello The Three Lions pernah ditukangi orang Swedia bernama Sven Goran Eriksson, sebelum ia digantikan Steve McClaren.
"Mungkin saya bisa menawarkan Redknapp untuk tim Italia. Tapi Cesare Prandelli (pelatih Italia saat iniβRed) adalah temanku," lanjut Ancelotti dengan maksud berkelakar.
Yang lebih pasti, katanya, melatih sebuah tim nasional adalah sebuah keinginan besar bagi mantan pemain berposisi gelandang itu.
"Mengurus tim nasional dan klub itu sangat berbeda, dan saya belum pernah menjadi pelatih timnas. Itu memang sebuah mimpi buat saya, dan tidak mesti Italia. Saya punya pengalaman main di tiga Piala Dunia (sebagai pemain) di tahun 1986, 1990 dan 1994. Saya pikir inilah momen terbaik dalam karir Anda."
Jika melatih tim nasional yang bukan negaranya, bahasa menjadi sebuah kendala. Namun, Ancelotti tidak memandangnya sebagai kendala yang sangat menyusahkan.
"Tentu saja bahasa sangat penting, tapi bukan yang paling penting. Sepakbola itu saja sudah merupakan sebuah bahasa internasional," tukasnya.
"Sangat gampang berbicara dengan para pemain tentang hal-hal teknis. Yang lebih sulit adalah memotivasi pemain dalam sebuah bahasa yang berbeda. Tapi saya rasa Capello mampu melakukannya."
(a2s/a2s)











































