Dalam kurun waktu kurang lebih enam hingga tujuh tahun terakhir, para investor asing mulai menanamkan modal dan menjadi klub-klub di Inggris utamanya di Premier League.
Chelsea dimiliki oleh miliarder Rusia Roman Abramovich. Sementara Manchester United dimiliki Malcolm Glazer asal Amerika Serikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Blackburn Rovers dan Manchester City dikuasai investor asal Asia, masing-masing Venky (India) dan ADUG (Abu Dhabi).
Masuknya owner asing dinilai telah menciptakan kultur ketidaksabaran. Owner yang telah menanamkan uang dalam jumlah besar ingin prestasi datang dengan cepat.
Selain itu tak jarang pemain yang didatangkan klub tidak sesuai dengan keinginan manajer, namun hanya demi memenuhi keinginan sang pemilik.
Yang jadi korban dari budaya "terburu-buru" ini adalah manajer. Yang teraktual adalah Roy Hodgson yang dipecat oleh Liverpool melalui surat elektronik. Cara ini mendapatkan kritik dari asosiasi manajer (LMA) karena dinilai tidak etis.
"Sungguh disayangkan karena beginilah iklim dari manajamen saat ini. Selama satu dekade terakhir kondisinya menjadi buruk dan semakin buruk," kata manajer MU Sir Alex Ferguson di Guardian.
"Saat ini klub memiliki pemilik baru, orang asing dari Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Rusia. Klub kini menghadapi kultur yang berbeda dan saya pikir mereka kini tidak memiliki kesabaran yang sama dibanding generasi-generasi sebelumnya," lanjut pria Skotlandia itu.
Data dari LMA menunjukkan bahwa sejak November 1986 atau waktu di mana Fergie menangani The Red Devils, ada 1.023 manajer yang telah dipecat, mengundurkan diri, atau memutus kontrak lewat kesepakatan bersama.
"Saya menilai bahwa saat ini posisi direksi dan manajerial di klub tak se-stabil di waktu lalu, di mana klub memiliki seorang kakek dan ayah yang menjadi chairman selama 40 tahun," tutup Fergie.
(nar/din)











































