Dua Minggu Lagi, Ranieri
Kamis, 06 Mei 2004 09:07 WIB
Jakarta - Claudio Ranieri baru saja “mengakhiri” karirnya di Chelsea, setelah timnya gagal melangkah ke babak final Liga Champions. Ia hanya punya waktu dua minggu untuk mengemas kopernya dan mengucap selamat tinggal Stamford Bridge.Begitulah kisah Ranieri di bab-bab terakhir buku karirnya bersama The Blues. Setelah berada di klub ini sejak September 2000, pelatih rendah hati dan gentleman ini hampir dipastikan diganti oleh orang lain.Dua hari lalu Ranieri mengatakan, mempersembahkan titel Liga Champions pun tidak menjamin dirinya dipertahankan. Apalagi sekarang, setelah Kamis (6/5/2004) dinihari tadi Frank Lampard dan kawan-kawan ditahan 2-2 oleh Monaco di semifinal kedua — kalah 3-5 secara aggregate.Orang yang disebut-sebut akan mengisi posisinya itu bahkan sudah berada di stadion Stamford Bridge pada pertandingan tersebut: Jose Mourinho. Namun, lantaran belum diresmikan, Mourinho berkelit dengan mengatakan bahwa kehadirannya di London hanya untuk mengawasi calon lawan timnya di final. Maklum, Porto, klub yang sedang ia tangani, lebih dulu lolos ke final setelah menyingkirkan Deportivo La Coruna.Ranieri pasti sadar betul bahwa dirinya duduk di kursi panas. Kursi yang dimiliki seseorang yang “mendadak” jadi penguasa sepakbola hanya karena ia punya duit kelewat banyak. Roman Abramovich, yang dua tahun lalu masih sekadar fans bola biasa (baca: fans Spartak Moskow), tiba-tiba punya kuasa penuh di sebuah klub elit Inggris. Dan uang pun memang berbicara. Uang sebanyak 120 juta poundsterling ia keluarkan untuk mengumpulkan pemain-pemain bintang — dan Ranieri diberi tugas untuk meramu formasi tersebut. Sayang, kalau ukurannya adalah prestasi, maka Ranieri telah gagal memenuhi keinginan bosnya itu.Chelsea paling banter hanya menduduki peringkat runner up Liga Inggris — sesuatu yang tak pernah lagi mereka tempati sejak tampil sebagai juara di tahun 1989. Di Liga Champions Ranieri hanya sampai pada kata “hampir”, bahwa ia nyaris mengantarkan The Blues menorehkan rekor dengan lolos ke babak final untuk pertama kalinya.Apa boleh buat, Monaco adalah lawan yang tangguh. Meskipun sempat unggul 2-0, yang membuat kans mereka kembali terbuka, namun gawang Carlo Cudicini akhirnya juga jebol dua kali. Ranieri bilang, gol pertama yang dibidani Fernando Morientes tapi dibuat Hugo Ibarra itu menyebabkan semuanya berantakan.“Kami hanya seri, gagal ke final melawan tim yang sangat baik,” begitu salah satu komentar bekas pelatih Fiorentina, Valencia, dan Atletico Madrid ini, karena Ranieri memang terkenal sebagai orang yang sportif, yang tak segan-segan melontarkan pujian terhadap sesuatu yang dinilainya pantas dipuji, serta lebih memilih mengakui kesalahannya sendiri ketimbang mencari kambing hitam atas sebuah kegagalan.“Saya sangat bangga kepada pemain-pemainku. Mereka sungguh luar biasa. Tapi, apa yang Anda pikirkan tentang perasaanku? Semua orang bisa mengerti apa yang setiap orang rasakan di sini sekarang,” tambahnya.Meski demikian Ranieri tidak mau dibilang tim ini telah gagal total. “Banyak klub menghabiskan banyak uang dan mereka tidak sampai di mana Chelsea telah sampai. Uang Roman telah dihabiskan dengan sangat baik,” katanya.Ia menceritakan, konglomerat dari Rusia itu mendatangi kamar ganti pemain usai timnya disingkirkan Monaco. “Ia bilang, ‘’next time it will be better'.”Tapi, tidak ada next time buat Ranieri, kecuali pertandingan akhir pekan ini melawan Manchester United di Old Trafford, dan minggu depannya melawan Leeds United di Stamford Bridge. Jadi, ia memang sedang menghitung mundur menjelang hari-hari akhirnya di klub tersebut. (a2s/)











































