Susahnya Mendepak Gerard Houllier

Susahnya Mendepak Gerard Houllier

- Sepakbola
Senin, 24 Mei 2004 13:20 WIB
Jakarta - Isu itu sudah lama bergulir, tapi sampai sekarang Gerard Houllier belum terdepak juga dari Liverpool. Orang Prancis ini selalu memberi perlawanan terhadap apa dan siapapun yang menginginkannya pergi dari Anfield.Jantung Houllier memang pernah bermasalah, tapi telinganya tidak. Ia tentu mendengar begitu banyak orang yang tidak menghendaki lagi dirinya menukangi The Reds. Bahkan musim ini, setelah target klub terpenuhi β€” lolos ke Liga Champions musim depan β€” ia tidak otomatis terbebas dari ancaman tersebut.Tapi kecintaan-lah yang membuat Houllier harus melawan. Ia tak mau ditendang begitu saja tanpa ada perlawanan. Mungkin bagi banyak orang sikap tersebut menandakan betapa keras kepalanya lelaki kelahiran 3 September 1947 itu. Namun Houllier terlanjur terpukau pada kehidupannya di Meyserside.Bekas pelatih timnas Prancis yang gagal meloloskan negara tersebut ke putaran final Piala Dunia 1994 itu didatangkan ke Anfield pada musim panas 1998 untuk mendampingi Roy Evans β€” sesuatu yang langka di Liga Inggris di mana posisi manajer dipegang dua orang. Empat bulan kemudian Evans mundur dan Houllier mulai berkuasa penuh.Cukup penting perubahan-perubahan yang dilakukannya di klub elit Inggris ini. Ia berhasil meredam budaya β€œminum-minum” pada skuad β€œmanjanya”. Yang terbesar adalah peranannya membidani modernisasi kamp latihan Liverpool di pinggiran West Derby, yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari Stadion Anfield dengan menaiki bus.Dari sebuah tempat tua yang sebelumnya terlihat seperti kamp tentara, Melwood diubah menjadi salah satu kompleks olahraga tercanggih di dunia sepakbola. Greame Souness memulai perubahan itu, tapi Houllier meramunya dengan lebih telaten. Ia bahkan terlibat langsung dalam desain-desain spesifik, mulai dari posisi jendela agar menyegarkan pandangan, sampai menerapkan prinsip kebersamaan, bahwa tidak ada tempat buat pemain β€œmenyembunyikan” sesuatu. Melwood β€” disebutnya β€œbunker” β€” difungsikan sebagai pusat pengembangan Liverpool.Sejak hari pertama datang ke kota The Beatles ini Houllier sudah menganggap Liverpool sebagai keluarga barunya β€” ia pernah bekerja sebagai guru di kota ini pada akhir era 60-an. Ia juga memilih tinggal di sebuah rumah bersama istrinya di dekat pusat kota Liverpool agar bisa dekat dan mengetahui omongan fans klub ini di jalanan β€” baik atau buruk. Itu sebabnya ia selalu sewot jika dikatakan tidak memahami sejarah dan perasaan unik para fans jika menerima hasil jelek.Houllier adalah pembenci kekalahan dan selalu siap menghadapi siapapun yang mencela dirinya. Tapi dia amat royal pada para pendukungnya. Jika Steven Gerrard dan kawan-kawan setia pada aturan-aturannya, dia akan membela mereka mati-matian dari segala kritik. Bekas pelatih Lens dan Paris St Germain ini juga memiliki sikap profesionalisme tinggi dan punya hasrat berkobar-kobar untuk meraih sukses. Itu sebabnya ia tak pernah mau dibilang gagal. Ia selalu punya jawaban untuk pertanyaan tentang hal itu.β€œSaya yakin 100% akan tetap di sini musim depan,” katanya. β€œPengurus pasti sadar bahwa tim ini lolos ke Liga Champions tiga kali dalam enam tahun. Spekulasi pergantian diriku penuh sampah belaka.” Begitulah Houllier. Ia berhak atas keyakinannya, meski mungkin bertolak belakang dengan keyakinan para penggemar Liverpool. Yang jelas, hari Minggu (23/5/2004) kemarin ia mengadakan pembicaraan dengan ketua klub, David Moores. Kabarnya Moores kali ini tak mungkin lagi melanjutkan dukungan setianya kepada Houllier. Beberapa nama pun muncul sebagai calon manajer baru Liverpool, antar alain Alan Curbishley, Gordon Strachan, dan manajer Valencia Rafael Benitez. Legenda Anfield Kenny Dalglish juga disebut-sebut akan mengisi jabatan direktur teknis klub ini. Entah bagaimana hasil perlawanan Houllier kali ini. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads