Maaf Kalau Saya Sombong…

Jose Mourinho:

Maaf Kalau Saya Sombong…

- Sepakbola
Jumat, 04 Jun 2004 09:24 WIB
Jakarta - Jose Murinho datang ke Inggris dengan kepala tegak 90 derajat. Ia ‘kan baru saja memenangi Liga Champions bersama klub terdahulunya, FC Porto, setahun setelah ia dan tim Portugal itu menjuarai Piala UEFA.Pelatih berusia 41 tahun itu kini resmi menangani Chelsea, klub paling boros yang sedang gemar menghambur-hamburkan uang demi mengumpulkan pemain bintang di Stamford Bridge. Hari Rabu (2/6/2004) lalu ia menjalani tugas pertamanya sebagai seorang manajer baru: menggelar konferensi pers. Berikut ini petikan beberapa pernyataannya yang dikutip dari BBC.Apa yang akan dilakukannya di Chelsea:Memberikan kemampuan terbaikku, meningkatkan segala sesuatu, dan menciptakan tim sepakbola dalam hubungannya dengan citra dan filosofiku mengenai permainan ini.Siapa yang akan dibelinya:Saya akan bilang, jika semua nama yang Anda sebut dalam beberapa hari terakhir adalah benar, maka kami akan punya 50 pemain dan saya mesti bekerja dengan skuad yang besar. Saya benci skuad yang besar. Saya ingin 21 pemain plus beberapa kiper. Tidak lebih. (Chelsea saat ini punya kurang lebih 47 pemain termasuk 7 penjaga gawang!) Tentang dirinya sebagai figur kepercayaan Chelsea:Kami punya pemain-pemain top. Dan, maaf kalau saya sombong, kami punya manajer yang top.Ambisinya di musim depan:Ambisi terbesar adalah saya harus memenangi pertandingan pertama Premiership pada tanggal 14 Agustus 2004.Sewaktu didesak, ambisinya yang lain:Ambisi kedua adalah memenangi pertandingan kedua pada 21 Agustus, dan kami ingin seperti itu terus menerus.Tentang dirinya sebagai seorang manajer sepakbola di era moderen:Saya mencintai sepakbola sejak dapat mengingat dan memahami revolusi sepakbola dan modernitas yang diperlukan sepakbola.Saya bukannya pendukung manajer (aliran) lama atau baru. Saya percaya ada yang bagus dan ada yang tidak, ada yang sukses ada yang tidak. Tapi tolong jangan sebut diriku arogan, tapi saya adalah seorang juara Eropa, dan saya pikir diriku adalah orang yang istimewa.Tanggapannya tentang komentar Claudio Ranieri bahwa dirinya bakal menemui kesulitan beradaptasi dengan gaya sepakbola Inggris:Kalau ada di antara Anda yang merupakan teman Ranieri atau punya nomor teleponnya, jelaskan padanya bahwa untuk menjadi juara Eropa sebuah tim harus mengalahkan banyak tim dari negara lain.Saya tidak meraih piala ini melawan 20 tim Portugal. Saya mengalahkan sebuah tim dari negara dia, Italia, dan sebuah tim di negara yang ia pernah bekerja di sana, Inggris. Memenangi Piala UEFA juga demikian.Tentang pemain Chelsea saat ini yang membuatnya terkesan:Saya penganut prinsip spirit dan kerja sama tim. Hal pertama yang kujanjikan pada para pemainku adalah mereka akan kupandang sama.Saya tak ingin menjalin hubungan khusus dengan seorang di antara mereka. Saya benci membicarakan individu. Bukanlah pemain yang memenangi tropi, melainkan tim.Saya tak bisa bilang menyukai pemain anu, tapi secara umum saya menyukai pemain yang menyukai kemenangan. Bukan hanya mereka yang ingin main 90 menit, tetapi mencintai kemenangan setiap hari, di setiap sesi latihan, dan di segenap aspek kehidupan mereka.Pilihannya meninggalkan Porto:Saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya buat Porto. Mereka klub yang luar biasa, punya pemain-pemain hebat, direksinya fantastis, fansnya mengagumkan. Tapi mereka harus memahami harapan, hasrat, dan impianku untuk mendapatkan tantangan lain. Saya harap semuanya berjalan dengan baik pada mereka. Tapi kalau saya bertemu mereka di Liga Champions, tinggal masalah waktu saya berharap mereka kalah.Bersama mereka adalah sebuah kisah indah, tapi kisah itu sudah berakhir.Ada kisah lain yang diungkapkan Mourinho menanggapi kritik terhadap dirinya usai Porto mengalahkan AS Monaco di final Liga Champions lalu. Ia tak banyak senyum, tidak melakukan selebrasi dengan para pemain, menanggalkan medali kemenangannya dan langsung menuju lorong pemain untuk menemui anak-anaknya.Ternyata, katanya, ia mendapat teror via telepon sebelum pertandingan tersebut. “Ada ancaman serius yang mengarah pada keluargaku sehingga sikap saya berubah.” Ia kemudian meminta bantuan tenaga “profesional” karena merasa khawatir dengan keselamatan keluarganya. “"Saya khawatir. Saya ingin bersama keluarga saya, sehingga saya tak ingin ikut pesta," tukasnya. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads