Dilihat dari catatan prestasi yang pernah ditorehkannya, Ancelotti jelas bukan manajer sembarangan. Bersama AC Milan, ia pernah dua kali menjuarai Liga Champions, satu kali menjuarai Coppa Italia dan satu kali merengkuh Scudetto. Catatannya bersama Chelsea pun tak bisa dibilang jelek.
Lihat saja torehannya musim lalu, di mana ia sukses membawa Chelsea menjuarai Liga Inggris dan Piala FA. Double Winner! Dan ingat prestasi bagus tersebut dicapainya pada musim perdananya menjadi manajer. Apa pun, Ancelotti layak untuk mendapatkan apresiasi atas prestasinya ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hoddle kemudian mengritik terlalu seringnya Chelsea bergonta-ganti manajer. Hal ini disebutnya berimbas pada inkonsistensi prestasi. Ya, Chelsea seperti cocok-cocokan jika menggamit manajer baru.
"Saya pikir, jika mereka melakukannya lagi (memecat manajer, red), maka mereka akan melangkah mundur, alih-alih melangkah maju," ucap Hoddle.
Tapi, apa mau dikata. Beginilah solusi instan ala Roman Abramovich. Siapa pun manajer yang tak memberikan hasil kepada klub sudah pasti bakal didepak. Dan ini sudah terlihat ketika ia pernah memecat Claudio Ranieri, Avram Grant dan Luiz Felipe Scolari. Orang kaya asal Rusia itu hanya peduli akan hasil.
Solusi instan ini jugalah yang memang sudah mendarah-daging di Chelsea sejak kedatangannya. Ingat, demi mencapai kesuksesan, Abramovich memilih jalan menyuntik dana tak terbatas untuk membeli pemain-pemain bintang nan mahal. Abramovich seperti tak peduli apakah dirinya untung atau rugi dengan membeli pemain itu.
Sekarang, apa yang akan dilakukannya? Tentunya membidik manajer baru yang di matanya punya kualitas setara atau lebih bagus dari Ancelotti. Kabar yang beredar, manajer FC Porto, Andre Villas-Boas, masuk dalam radarnya.
Jika Villas-Boas akhirnya benar-benar menjadi manajer The Blues, tentu dia tahu konsekuensinya menjadi anak buah Abramovich.
(roz/a2s)










































