Bulan November ini Fergie genap seperempat abad menangani MU. Dalam kurun waktu sekitar 25 tahun tersebut, aspek emosi menjadi bagian tidak terlepaskan dari peranan manajerialnya.
Luapan emosi Fergie acapkali memang mampu melecut semangat para pemainnya. Tetapi ada juga momen-momen di mana hal itu justru mengawali kepindahan pemainnya ke klub lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak lama usai insiden tersebut, Beckham memutuskan hengkang. Meski kini hubungan Becks-Fergie diakui masih tetap baik-baik saja, Fergie tetap mendapat pertanyaan apakah sikapnya itu sudah "merusak" para pemain bintangnya secara umum.
"Aku harap tidak. Ada banyak mitos terkait dengan hal ini. Dalam latihan, tidak ada hal lain kecuali pujian untuk semua pemain. Tidak ada yang lain kecuali hal positif," aku Fergie di ESPN Star.
"Apa yang didapatkan David dan pemain lain adalah caraku bereaksi pada kekalahan, yang mana tidak mudah aku terima. Aku pikir aku tidak perlu berubah, aku tidak suka orang yang berubah. Aku pikir Anda harus tetap pada sifat asli. Tapi semuanya selesai setelah itu. Aku tidak pernah mengungkit-ungkit, besok adalah hari baru untukku," paparnya.
Terkait dengan hal itu Fergie sekaligus menerangkan mengenai kebiasaan dirinya dalam memarahi pemain, yang mana saking dahsyatnya sampai diibaratkan seperti habis kena "todong" pengering rambut.
"Pengering tambut adalah bagian dari mitos dan juga hingar bingarnya (sepakbola). Itu benar-benar dibesar-besarkan. Tapi aku adalah sosok yang konfrontasional dan aku tidak suka orang mendebat balik ucapanku. Aku pikir dari sinilah muncul terapi pengering rambut," simpul pria 69 tahun itu.
(krs/rin)











































