Saga Patrick Vieira
Antara Loyalitas & Tantangan Baru
Kamis, 05 Agu 2004 09:23 WIB
Jakarta - Hari-hari belakangan ini penggemar Real Madrid berdebar-debar menunggu apakah Patrick Vieira jadi datang ke Santiago Bernabeu atau tidak. Tapi sebetulnya yang lebih deg-degan adalah fans Arsenal.Real dalam posisi tanpa beban. Toh membeli Vieira bukanlah request suporternya melainkan keinginan Florentino Perez, Jose Camacho, plus Zinedine Zidane. Kalau sukses, maka kekuatan mereka dijamin bakal bertambah. Jika gagal, ya tidak apa-apa. Tinggal cari penggantinya. Beres.Akan halnya fans The Gunners, mereka tengah berharap pada nilai sebuah loyalitas. Vieira itu hebat, bahkan salah satu yang terbaik di dunia saat ini pada posisi gelandang bertahan. Tapi pemain hebat itu selalu datang dan pergi. Mereka bisa didatangkan dengan uang, bisa pula keluar karena uang. Masalahnya, benarkah Arsenal sedang melarat?Sebetulnya tidak juga. Mereka memang sedang berhemat karena tengah menyelesaikan pembangunan stadion baru di Ashburton Grove, yang biayanya mencapai 357 juta poundsterling. Tapi mereka sudah punya anggaran 260 juta pounds plus 97 juta lagi dari sponsor.Bagaimanapun, kebanyakan klub memutuskan menjual seorang pemainnya jika yang bersangkutan merasa sudah saatnya untuk pergi. Inikah saatnya buat Vieira meninggalkan klub London itu?Fans yang maniak pasti akan mengungkit-ungkit masa lalu. Delapan tahun lalu Patrick Vieira hanyalah pemuda Prancis yang tidak dikenal meskipun berstatus pemain AC Milan. Lalu Wenger membujuk wakil ketua Arsenal David Dien untuk mengambilnya dari San Siro.Maka lihatlah. Dari yang bukan siapa-siapa Vieira sudah menjadi Vieira yang sekarang. Wenger dan Arsenal telah menyulapnya sedemikian rupa, termasuk dari seorang yang berandal menjadi pemimpin. Pemain yang paling disayang Wenger mungkin ya Vieira. Tiga tahun lalu, ketika Real Madrid pertama kali berniat membelinya, manajer Prancis itu memaksa pengurus menaikkan gaji dan memperpanjang kontrak Vieira. Ia juga berencana menyematkan ban kapten jika Tony Adams sudah mundur.Jabatan itupun kelak menambah matang pria kelahiran Dakar, Senegal, itu. Wenger tahu betul cara menghentikan hobi Vieira mengumpulkan kartu kuning dan kartu merah. Dengan ban kapten si pemain merasa punya tanggung jawab lebih untuk mengendalikan rekan-rekannya. Dan itu terlebih dulu harus dimulai dari diri sendiri.Tapi dalam sepakbola kenangan itu terasa pendek. Vieira ingin tantangan baru. Toh ia pun merasa sudah memberikan hampir semuanya kepada Arsenal. Hanya satu yang belum: tropi Liga Champions. Ironisnya, titel itu ia ingin dapatkan bersama klub lain, Real Madrid.Padahal tidak ada jaminan bahwa Los Merenguesβ ataub manapunβ bisa mewujudkan ambisi Liga Champions itu. Tapi Vieira kelihatannya sudah ingin ke sana. Indikasinya, ia selalu bungkam. Setidaknya ia mesti berdiplomasi sedikit dengan sekadar mengatakan βsaya sangat senang berada di Arsenal dan ingin menghabiskan karir di tempat iniβ. Ruud van Nistelrooy pernah mengatakan hal demikian saat ditaksir Real Madrid (juga), kendati tidak berarti ia tidak mau pindah.So, inilah saatnya bagi Vieira untuk pergi. Loyalitas, sebagaimana dituntut fans dari masa lalu, bukanlah harga mati atau kewajiban. Ia nisbi. Loyalitas hanya lahir dari lubuk hati pribadi dan tidak mesti dicatat ketika dia menandatangani kontrak kerja.Tinggal Vieira berharap fans Arsenal tidak seperti suporter Barcelona atau kebanyakan tifosi Italia yang begitu gampang mengubah predikat seseorang dari βpahlawanβ menjadi "pengkhianat". Tidak semua pemain jadi pahlawan klubnya, tapi semua pemain tidak ingin disebut pengkhianat. (a2s/)











































