Survei: Kepailitan & Perceraian Ancam Pesepakbola Usai Pensiun

Survei: Kepailitan & Perceraian Ancam Pesepakbola Usai Pensiun

- Sepakbola
Senin, 04 Mar 2013 19:06 WIB
ilustrasi
London - Pesepakbola profesional di Inggris acapkali diberitakan punya gaji selangit. Tetapi setelah tidak lagi aktif bermain, tak sedikit yang kemudian dinyatakan pailit dan bahkan berpisah dengan pasangannya.

Hal itu diungkap XPro, sebuah badan amal yang membantu mantan pesepakbola profesional di Inggris Raya dan Irlandia, lewat hasil survei terhadap mantan pemain sepakbola di kompetisi kasta teratas.

Kendatipun rata-rata gaji dari seorang pemain Liga Primer Inggris berkisar di angka 30 ribu poundsterling (sekitar Rp 436 juta) per pekan, tetapi masalah keuangan tetap berpotensi muncul dalam waktu singkat setelah mereka gantung sepatu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Data kami menunjukkan bahwa tiga dari lima pemain pailit dalam kurun waktu lima tahun dan itu juga berkaitan dengan satu dari tiga pemain yang mengalami perceraian dalam waktu 12 bulan (sejak pensiun)," kata Chief Executive XPro Geoff Scott kepada Sun on Sunday yang dikutip ESPN Soccernet.

"Mereka terkadang diberi nasihat oleh orang yang keliru dan sebelum mereka menyadarinya, seluruh aset mereka sudah lenyap," lanjut mantan pemain Leicester dan Stoke itu.

"Kendatipun mereka masih bisa memperjuangkan kariernya di media atau di acara-acara santap malam, mereka tidak menyadari bahwa mereka harus menyisihkan uang untuk pajak. Ini mungkin terdengar terdengar luar biasa untuk suporter biasa, tapi ini bisa dan sudah terjadi," papar Scott.

Salah satu pemain yang sedang dibantu XPro saat ini adalah mantan bintang Aston Villa Lee Hendrie--juga pernah merumput di Indonesia--yang kini sudah dinyatakan pailit.

Mark Sands, spesialis kepailitan dari RSM Tenon, berusaha menganalisis fenomena ini. Menurutnya, para pemain top menghadapi masalah karena umumnya sudah memiliki selera mahal dan juga membuat investasi yang penuh risiko.

"Ketika karier bermain mereka habis, mereka tak punya pemasukan kedua dan pemasukan mereka berkurang drastis. Dan saat pemasukan kedua mereka berkurang, pengeluaran mereka justru tidak," analisisnya.

(krs/mrp)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads