Hasil di pekan terakhir Liga Inggris musim ini membuat Tottenham Hotspur terdiam dan Arsenal bersorak. Sama seperti musim lalu, musim The Lilywhites berakhir dengan hanya sebatas "nyaris".
Kata "nyaris" di sini akan diikuti dengan frase "lolos ke Liga Champions". Ya, dalam dua musim terakhir, Spurs berjuang keras untuk bisa maju ke Liga Champions, tapi ujung-ujungnya gagal. Hanya saja kondisinya agak berbeda dengan musim lalu.
Spurs sukses menembus empat besar pada musim 2011/2012. Namun, lantaran Chelsea tampil sebagai juara Liga Champions, mereka harus merelakan tiket ke Liga Champions dan memberikannya kepada sang juara bertahan. Padahal The Blues sendiri hanya finis di urutan enam klasemen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut berkebalikan dengan Arsenal, rival berat sekaligus pesaing dalam memperebutkan posisi di klasemen dalam dua musim terakhir. The Gunners memang kerap melempem di awal musim, tapi ujung-ujungnya mereka bangkit. Ini pun berimbas positif pada peringkat mereka di klasemen.
Andai Spurs bisa tampil lebih bagus pada periode pertengahan Januari hingga akhir Maret pada musim lalu, posisi finis mereka bisa lebih baik --dan tidak perlu kehilangan tiket ke Liga Champions karenanya. Demikian juga halnya dengan musim ini.
Pada 2011/2012, Spurs hanya mendapatkan 2 kemenangan dalam 10 laga dalam rentang waktu tersebut. Sementara, pada rentang waktu dan jumlah laga yang sama musim ini, mereka mencetak 4 kemenangan. Memang lebih baik, tapi tetap saja kehilangan poin pada periode tersebut terbukti membuat Spurs kalah dalam persaingan di ujung musim.
Gareth Bale boleh saja tampil luar biasa musim ini, namun kadang Spurs kerap keteteran ketika menghadapi tim yang memberlakukan pressing ketat pada lini tengah dan barisan pertahanan mereka. Arsenal memang kalah 1-2 dalam laga Maret lalu, tapi dalam catatan statistik FourFourTwo, pada laga itu barisan tengah The Gunners berhasil membuat 19 intercept berkat pressing yang mereka peragakan.
EPL Index kemudian membahas masalah lain dalam tim Spurs musim ini. Mereka menyebut, kebiasaan Andre Villas-Boas dalam menerapkan garis pertahanan yang tinggi tidak diikuti dengan komunikasi yang baik di antara para bek. Padahal deengan garis pertahanan yang tinggi, dan mengandalkan offside trap untuk mematikan serangan lawan, komunikasi adalah sesuatu yang vital.
Soal buruknya komunikasi itu disebabkan lantaran kerap berubahnya formasi back-four Spurs, di mana cedera pemain juga berperan dalam masalah ini. Masalah lainnya? Soal kecepatan bek tengah. Steven Caulker dan Jan Vertonghen memang cukup cepat jika harus menghadapi umpan terobosan, namun tidak demikian halnya dengan Michael Dawson.
Andre Villas-Boas pun tidak bisa menyembunyikan ketidakpuasannya. Dia meminta Spurs melakukan belanja besar pada musim panas nanti guna menaikkan standar persaingan dengan tim-tim besar lainnya. Yang juga tidak kalah penting adalah mempertahankan Bale dan sejumlah pemain penting lainnya.
"Jika ingin tampil lebih baik musim depan, kami harus bisa mempertahankan aset-aset terbaik kami," ucap Villas-Boas di Telegraph.
"Kami harus meningkatkan standar karena para pesaing kami pasti juga demikian. Kami nyaris mendekati mereka (Arsenal dan Chelsea) dan mereka pasti akan memperkuat diri di bursa transfer. Kami pun juga harus seperti itu."
(roz/a2s)











































