Oezil dan Flamini menjadi rekrutan Arsenal di musim panas. Ini merupakan periode kedua Flamini di Emirates Stadium setelah sebelumnya bermain pada 2004-2008. Ia sempat mencicipi Seri A bersama AC Milan sebelum memutuskan kembali ke Inggris.
Sementara Oezil yang diboyong dari Real Madrid telah menjadi idola baru di Arsenal. Dari tiga laga yang telah dilalui, Oezil membukukan tiga assist, sebuah catatan yang tak terlalu mengejutkan mengingat ia juga jadi "Raja Assist" di Madrid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia tidak berharga 42 juta pounds, dia tidak bisa mengubah laga dengan sebuah sontekan cerdik, dan tidak akan pernah ada kerumunan penonton berkumpul di luar stadion untuk berpose dengan seragam bertuliskan namanya. Meski demikian, Flamini sama berharganya untuk tim seperti Oezil, pemain bintang yang telah menimbulkan banyak gairah di Arsenal," kata Smith kepada The Telegraph dan dikutip Sportsmole.
"Ya, Oezil memang punya kendali atas tiga gol melawan Stoke City, dengan tendangan pojoknya yang akurat dan tendangan bebasnya. Sangat mudah untuk mengagumi talenta seperti itu, meski masih ada banyak hal yang bakal datang dari 'si Jerman kecil'."
"Tapi sepakbola adalah tentang keseimbangan dan perlawanan, tentang melakukan pekerjaan kotor sekaligus meraih kejayaan. Dalam hal ini Flamini sangatlah cocok karena dia memang tipe pejuang keras."
"Anda bisa melihat itu dari bahasa tubuhnya. Pemain Prancis ini suka dengan tugasnya saat ini yang menuntutnya untuk berdiri di depan empat bek dengan tenang, melakukan tekel satu kaki atau dua kaki, untuk menutup pergerakan seorang pelari, di mana secara umum bertindak sebagai tameng hidup. Dia adalah tipe pekerja keras, yang tak pernah berhenti berlari ataupun berbicara," papar pemain Arsenal periode 1987-1995 itu.
(raw/krs)











































