Dalam legenda 'Giant Killing', yang kecil menindas yang besar adalah sajian utamanya. Di Piala Liga Inggris, legenda tersebut jamak terjadi.
Tengoklah Sunderland. Mereka mungkin jadi bulan-bulanan di Premier League dengan terdampar di urutan ke-19 klasemen, namun mereka punya kans menyelamatkan musim mereka lewat Piala Liga Inggris.
Ketika menghadapi Manchester United di babak semifinal, nasib keduanya sama; setidaknya membutuhkan trofi untuk menutupi keburukan di Premier League. Ketika United begitu yakin bisa melangkah ke Wembley, Sunderland dengan sukses menghancurkan mimpi itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Piala Liga Inggris pun seperti jadi ajang "klub-klub tertindas". Mereka yang buruk di liga akan mencari penebusan di kompetisi-kompetisi domestik semacam ini.
Musim lalu, Manchester City dan Wigan Athletic sama-sama mencari penebusan di final Piala FA. Wigan akhirnya muncul sebagai juara, kendati di liga mereka akhirnya harus terdegradasi.
United dan Sunderland tidak berbeda dengan City dan Wigan. Namun, hebatnya buat Sunderland, mereka mencari penebusan itu dengan menyingkirkan klub-klub yang berposisi lebih tinggi dari mereka di liga.
Usai mengalahkan Southampton, The Black Cats kemudian menyingkirkan Chelsea di babak perempatfinal. Selanjutnya United pun jadi korban di semifinal.
Lalu, bisakah Sunderland melakukan hal serupa terhadap City di final nanti?
"Sembilan ribu fans di sini layak mendapatkan sebuah perjalanan ke Wembley. Pada tiap laga tandang, mereka selalu datang berbondong-bondong dan mereka layak untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa," ujar bek Sunderland, Phil Bardsley, di Sky Sports.
"Saya harap kami bisa memberikan sesuatu yang luar biasa itu," simpul Bardsley.
(roz/krs)











































