Yang satu dikenal dingin dan pendiam serta terkesan menjauh dari sorotan. Sementara yang lain adalah 'kesayangan' media yang punya panggung besar dengan berbagai kontroversinya. Mereka Manuel Pellegrini dan Jose Mourinho.
Pellegrini bisa jadi dinilai membosankan oleh wartawan-wartawan Spanyol dan Inggris. Dia terlihat terlalu kalem saat meladeni pertanyaan. Wajahnya yang sudah banyak berkerut di usia 60 sering datar dan seperti tanpa ekspresi.
Tapi semua tahu kalau sikap orang Chile itu di depan kamera bertolak belakang dengan apa yang ditampilkan timnya di atas lapangan. Malaga dibuatnya jadi kejutan Liga Champions dua musim lalu, sementara Manchester City jadi tim yang sangat mengerikan dengan produktivitasnya di Premier League saat ini. Pellegrini tak bisa dilepaskan dengan sepakbola menyerang di manapun dia melatih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malam nanti di Etidah Stadium, Pellegrini dan Mourinho akan kembali berhadapan dalam duel panas Manchester City vs Chelsea. Itu merupakan pertemuan kesembilan kedua pelatih, yang sudah dimulai di Liga Spanyol pada Maret 2012 lalu. Untuk sementara Mourinho unggul telak karena telah menang enam kali, sementara Pelegrini cuma menang sekali dan satu laga lainnya berakhir imbang.
Meski unggul statistik, Mourinho tak akan bisa tenang menjelang laga tersebut. Pellegrini bersama City punya performa luar biasa di musim ini. Mereka meraih 100% kemenangan di kandang sendiri dan sejauh ini total sudah melesakkan 68 gol di Premier League saja. The Citizens mencatatkan 19 kemenangan, sekali imbang, dan satu kekalahan dalam 21 laga terakhir di Premier League, hasil itu termasuk 11 kali kemenangan beruntun.
Kembali ke rivalitas kedua pelatih, panasnya hubungan mereka diawali oleh keputusan Madrid memecat Pellegrini dan menggantinya dengan Mourinho di 2010 lalu. Punya skuat oke namun gagal mengantar El Real memenangi persaingan dengan Barcelona, Mourinho ketika itu menyebut Pellegrini sebagai 'pecundang nomor satu'.
"Jika saya dipecat Madrid, saya tidak akan ke Malaga. Saya akan pergi melatih ke tim top yang ada di Premier League," sindir Mourinho ketika itu.
Pellegrini, bisa ditebak, tak mau ambil pusing dengan pernyataan Mourinho tersebut. Termasuk 'serangan' terbaru Mourinho yang menyebut City cuma sedang beruntung di Premier League dan tengah mencari pembuktian di Eropa. Dalam pernyataannya di konferensi pers, Pellegri menyebut kalau dirinya akan memberi jawaban melalui penampilan timnya di atas lapangan.
Oktober lalu di Stamford Bridge, Pellegrini memilih untuk tidak menjabat tangan Mourinho usai City kalah 1-2 atas Chelsea. Pellegrini kesal karena Mourinho merayakan gol penentu kemenangan The Blues di belakang bangku cadangan City, bersama anaknya. "Saya tidak mengharapkan perayaan gol yang berbeda darinya. Itu sesuatu yang normal (dilakukan Mourinho). Saya tidak menjabat tangan. Saya tidak menyukainya," sahut Pellegrini kalem ketika itu.
Soal kekalahan City atas Chelsea di pertemuan pertama lalu, Pellegrini juga tak mau banyak berdalih. City diakuinya membuat kesalahan dan itu harus dibayar mahal dengan kekalahan.
"Saya tidak tahu apakah mereka beruntung (di laga pertama). Kami membuat kesalahan di menit-menit akhir. Mungkin mereka tidak bermain lebih baik dibanding kami. Kami mencoba memenangi pertandingan, tapi sepakbola juga punya hal lain yang penting. Di dalam pertandingan, mereka menang karena kesalahan kami - Saya tidak tahu jika itu dianggap keberuntungan," sahut Pellegrini dalam konferensi persnya, kemarin.
(din/roz)











































