Cuma bertahan 1 tahun 233 hari, itlah karier Michael Laudrup sebagai manajer Swansea City. Setelah "bulan madu" selama tujuh bulan, hubungan Laudrup dan 'Si Angsa' mulai tak manis.
Laudrup pada musim panas 2012, tepatnya tanggal 17 Juni, diangkat sebagai manajer baru Swansea menggantikan sosok Brendan Rodgers, pria Irlandia Utara yang jadi favorit publik Liberty Stadium karena berhasil mengantarkan klub itu promosi ke Premier League di musim sebelumnya.
Sebelumnya Laudrup lebih banyak berkutat di La Liga bersama Getafe dan Real Mallorca, setelah sempat diselingi melatih klub Rusia, Spartak Moskow, meski tak berakhir sukses.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal musim 2012/2013 berjalan sangat manis untuk Laudrup karena ia dengan cepat membawa Swansea melejit ke papan atas, serta membuat suporter Swansea melupakan Rodgers yang kala itu justru kesulitan bersama Liverpool.
Membuka musim dengan menang 5-0 atas Queens Park Rangers dan 3-0 atas West Ham United tentu sudah membuat fans, pemain, dan pemilik klub terbang ke langit ke tujuh. Apalagi di musim itu Swansea tak melakukan pembelian besar-besaran namun efektif seperti Pablo Hernandez dan Michu, yang kemudian jadi bintang baru di Premier League.
Selanjutnya, Swansea memang sempat menelan tiga kekalahan beruntun dalam 10 laga perdana di Premier League. Tapi musim itu Laudrup sukses memberikan sesuatu yang belum pernah diberikan manajer-manajer Swansea sebelumnya, yakni trofi juara.
Di kompetisi Piala Liga Inggris, Swansea menang besar lima gol tanpa balas dari Bradford City di final dan membuat klub itu untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya mengangkat Piala.
Tak hanya itu, klub asal kota terbesar kedua di Wales itu juga mendapat kesempatan bermain di Liga Europa.
Tapi sayangnya bulan madu Laudrup di Swansea hanya bertahan sampai situ saja, karena setelahnya penampilan Michu dkk menukik drastis.
Mereka memang finis di urutan kesembilan di akhir musim --lebih baik dari musim sebelumnya, di mana mereka finis di urutan kesebelas. Namun, dalam 15 laga di liga setelah menjuarai Piala Liga, Swansea menelan delapan kekalahan.
Performa buruk di pertengahan hingga penghujung musim kemarin pun berlanjut ke musim ini, di mana mereka tersendat di posisi ke-12 dengan 24 poin dan hanya berjarak dua angka dari zona degradasi.
Tak pelak Laudrup yang musim lalu dipuja-puji karena mampu menampilkan sepakbola yang aktraktif dan digadang-gadang bakal jadi manajer top di Inggris, pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa surat PHK sudah mampir ke meja kantornya.
Alhasil berakhirlah petualangan pria 49 tahun itu di Premier League dan ia pun harus menanggung akibat perselisihannya dengan para pemain dan juga petinggi klub, yang disinyalir jadi penyebab utama dipecatnya eks pemain Juventus, Real Madrid dan Barcelona itu.
Disebut musim ini banyak pemain yang tak suka dengan metode kepelatihan Laudrup, yang berujung pada konflik di ruang ganti serta tindakan indispliner yang kerap dilakukan sebagian pemain.
Lalu bagaimana soal rekor Laudrup di Swansea? Meski mampu mempersembahkan trofi pertama dalam sejarah klub itu, namun Laudrup masih kalah dibanding Martinez dan Rodgers.
Bahkan jika disejajarkan dengan Paulo Sousa yang juga sempat jadi pemain dan manajer klub itu, Laudrup juga harus menundukkan wajahnya. Dari 47 laga di seluruh kompetisi, Laudrup cuma mempersembahkan 17 kemenangan, 15 seri, dan 15 kekalahan, dengan prosentase 36,17 persen.
Sementara Sousa yang juga melatih klub selama setahun lebih, punya prosentase kemenangan 36,73 persen. Martinez sendiri masih jadi pelatih dengan rataan kemenangan terbesar yakni 50 persen dari 126 laga, lalu Rodgers punya 44,79 persen dari 96 laga.
Laudrup yang pernah memoles wajah 'Si Buruk Rupa' Swansea menjadi 'Si Angsa' putih yang indah, kini harus pergi setelah perlahan-lahan 'Si Angsa' kembali jadi 'Si Buruk Rupa'.
(mrp/din)











































