Arsenal mulai lagi menunjukkan gejala seperti yang telah berulang kali mereka alami: solid di puncak klasemen namun kemudian mengendur dan kehilangan status sebagai penantang juara jelang akhir musim.
Memang masih ada 10 pekan lagi sebelum Premier League musim 2013/2014 tuntas digelar. Namun apa yang dialami Arsenal dalam beberapa pertandingan terakhir layak membuat fansnya khawatir kalau upaya untuk menyudahi puasa gelar juara liga harus kembali tertunda.
Menjalani lima pertandingan sejak awal Februari, Arsenal cuma meraih dua kemenangan (Palace dan Sunderland). Dua pertandingan lainnya berakhir dengan kekalahan (Liverpool dan Stoke City) sementara satu sisanya adalah hasil imbang (Manchester United). Rangkaian hasil tersebut membuat Arsenal terus menjauhi puncak klasemen, mereka kini ada di posisi tiga dengan jarak empat angka dari Chelsea di posisi teratas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari 28 pekan yang sudah dijalani di Premier League musim ini, Arsenal tercatat berada di posisi teratas selama 20 pekan (4-16 dan 18-24). Adalah kekalahan telak atas Livepool (1-5) yang membuat Aaron Ramsey dkk mulai kehilangan pegangan di posisi teratas dan turun ke posisi dua. Akhir pekan lalu mereka kembali turun ke tangga ketiga setelah menelan kekalahan mengejutkan di tangan Stoke (0-1).
Atas kondisi yang terjadi pada Arsenal, Marca sampai menyebut mereka mengalami phobia (takut) akibat ketinggian (berada di puncak klasemen). Dalam bahasa medis dikenal dengan istilah 'Acrophobia'.
Faktanya, ini bukan kali pertama Arsenal mengendur performanya justru saat mereka berada di puncak sementara kompetisi memasuki periode krusial dan mendekati akhir musim. Dalam setidaknya 10 tahun terakhir mereka sudah dua kali mengalaminya.
Yang pertama terjadi di musim 2002/2003. Arsenal ketika itu menjadi pemuncak klasemen sampai pekan 32. Di pekan 33 mereka gagal menjauhkan jarak dengan MU setelah dipaksa bermain imbang 2-2 di Highbury.
Anak asuh Arsene Wenger turun ke posisi dua pada pekan 34 usai kalah dari Middlesbrough. Upaya mengejar The Red Devils di empat pekan tersisa tak bisa dilakukan Arsenal karena mereka justru dapat hasil buruk saat diimbangi Bolton Wanderers dan kalah dalam duel sengit dengan Leed united. MU jadi juara di musim itu, sementara Arsenal sebagai runner up dengan selisih lima poin.
Arsenal terpaksa mengalami De Ja Vu pada musim 2007/2008. Setelah merebut puncak klasemen di pekan kelima, mereka bisa bertahan di posisi tersebut sampai pertandingan ke-29. Hasil imbang dengan Wigan Athletic di pekan 30 dan skor 1-1 saat berhadapan dengan Middlesbrough pada laga berikutnya membuat 'Gudang Peluru' tergusur MU di posisi teratas. Arsenal kemudian malah kalah bersaing dengan Chelsea dalam perebutan posisi runner up dan menyudahi musim di tangga ketiga.
Untuk musim ini, peluang Arsenal untuk tetap bersaing menjadi juara sejatinya tetap terbuka. Tapi tantangan yang harus dihadapi Arsenal jauh dari mudah. Di sepanjang Maret ini saja seluruh pertandingan Arsenal berstatus big match.
Setelah kalah atas Stoke di awal Maret, mereka akan bertamu ke White Hart Lane menghadapi Tottenham Hotspur dan mengunjungi Chelsea di Stamford Bridge. Menutup bulan ini adalah perjamuan terhadap Manchester City di Emirates. Itu belum termasuk lawatan ke Bayern Munich di ajang Liga Champions dan laga dengan Everton di Piala FA.
Kondisi Arsenal seakan diperburuk dengan Mesut Oezil yang sering tampil di bawah performa terbaiknya. Sementara Theo Walcott juga masih cedera dan belum akan kembali dalam waktu dekat.
(din/mrp)











































