Moyes ditunjuk MU sebagai manajer awal musim ini, menggantikan Sir Alex Ferguson yang pensiun. Tak tanggung-tanggung, kontrak enam tahun langsung disodorkan manajemen klub kepada eks nakhkoda Everton itu.
Durasi tersebut diberikan bukan tanpa alasan. Manajemen klub setidaknya ingin memberikan waktu bagi Moyes untuk beradaptasi dan menjalani transisi. Maklum saja, jelas tak mudah mengambil alih sebuah tim yang sudah 27 tahun ditangani satu orang dan meneruskan prestasi yang ada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga pekan ke 34 ini, MU tercecer di urutan tujuh klasemen Premier League. Setelah dipastikan tak lolos ke Liga Champions musim depan --pertama kalinya sejak 1995--, pemilik 21 gelar liga ini juga kemungkinan besar tak lolos ke Liga Europa.
Total 11 kekalahan diderita sepanjang liga musim ini, yang mana merupakan rekor terbanyak MU di era Premier League. Mereka juga mencatatkan raihan poin terendah dalam 34 pekan sejak musim 1990/1991 dengan nilai 57.
Maka, belum genap semusim Moyes melatih, MU memutuskan memberhentikannya. Eks bek Liverpool Jamie Carragher yang kini berprofesi sebagai pengamat sepakbola di Sky Sports menilai keputusan tersebut tak bisa dihindari.
"Keadaannya memang akan sulit sejak awal (terkait transisi), tapi ini memang tidak berjalan baik. Ini sudah jadi musim yang hancur. (Pemecatan) Ini tak bisa dihindari," katanya di BBC.
Meski demikian, Carragher meyakini Moyes bakal bangkit usai musim tak menyenangkannya bersama MU. Perjalanannya musim ini tak akan menghapus rekam jejak bersama Preston North End dan Everton yang dianggap bagus.
"Memang tujuh bulan ini berjalan buruk, tapi David Moyes adalah seorang manajer yang melakukan tugasnya dengan bagus di Everton dan Preston. Dia akan bangkit lagi sebagai seorang manajer," ujar Carragher.
(raw/rin)











































