Akhir pekan kemarin, Chelsea sukses mengandaskan Liverpool di Anfield 2-0. Hasil ini mengubah peta persaingan menuju titel, di mana Liverpool kini tak lagi memegang kendali melainkan bergeser ke Manchester City.
Pujian lantas menghujani Mourinho. Bagaimana tidak? Chelsea datang tanpa kekuatan terbaiknya plus diserang bertubi-tubi tapi mampu tetap menang di kandang lawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski menang, Chelsea sendiri sepanjang pertandingan sejatinya malah tak tampak ingin menang. Mourinho menginstruksikan anak asuhnya bermain rapat di daerah kotak penalti dan sesekali melakukan serangan balik. Bahkan tim London barat itu kerap mengulur-ulur waktu.
Maka tak mengherankan jika statistik menunjukkan Chelsea cuma punya 27% penguasaan bola dan empat kali tembakan mengarah ke gawang. Sementara Liverpool dominan dengan 73% ball possession plus delapan tendangan tepat target.
Tapi bagaimanapun hasil akhir yang berbicara. Chelsea menghukum tuan rumah lewat dua kelengahan fatal dan memenangi laga. Satu sisi tak sedikit yang memuji strategi Mourinho, tapi di lain sisi kesuksesan ini menuai kritikan karena Chelsea dinilai bermain sangat negatif. Belakangan manajer Liverpool Brendan Rodgers menyebut mereka memarkir dua bus.
Makin menjadi pembicaraan karena Chelsea juga menampilkan gaya yang sama kala bertandang ke markas Atletico Madrid di semifinal Liga Champions. Tak mau kebobolan, Mourinho meminta anak asuhnya bermain sangat berhati-hati dan menumpuk di area kotak penalti.
Eks manajer Liverpool dan Newcastle United Graeme Souness menilai Mourinho tak layak disebut genius. Baginya, gaya permainan yang ditampilkan Chelsea itu hal yang tak sulit dilakukan, meski kemudian juga mengakui Mourinho pantas mendapatkan kredit.
"Di babak akhir liga dan turnamen, semuanya soal menang atau lolos ke fase berikutnya dan dia sama baiknya dengan siapapun dalam hal itu, meskipun gaya permainannya mungkin tidak disukai semua orang," ungkap Souness dalam kolomnya di Sky Sports.
"Bagaimanapun, saya tertawa ketika mendengar orang-orang berbicara soal genius taktik karena itu benar-benar omong kosong. Saya setuju dengan Brendan Rodgers ketika dia mengatakan bahwa taktik yang ditampilkan Mourinho di dua laga terakhir adalah cara paling sederhana untuk dimainkan," tambahnya.
"Tidak sulit untuk menyusun sebuah lini empat bek yang tidak pergi kemana-mana dan sebuah barisan gelandang di depan mereka yang juga tak kemana-mana, lalu mengincar lawan Anda dari serangan balik atau bola mati. Tapi Mourinho layak mendapatkan semua kredit karena faktanya dia punya para pemain top yang bekerja dalam pendekatan itu," demikian dia.
(raw/krs)











































