Muramnya musim United tidak hanya ditandai dengan hasil yang buruk ataupun dipecatnya David Moyes. Dalam sebuah wawancara dengan Telegraph, Nemanja Vidic mengungkapkan bahwa tensi di dalam ruang ganti begitu tinggi sepanjang musim.
Penyebabnya sederhana, United yang terbiasa meraih hasil-hasil bagus kaget dengan sederetan hasil buruk di Premier League. Imbasnya, para pemain pun saling berdebat dan beradu argumen di dalam ruang ganti.
Menurut Vidic, adu argumen dan debat itu terjadi karena para pemain United sudah bermain bersama selama bertahun-tahun. Jika ada masalah, mereka akan mengatakannya langsung tanpa disembunyi-sembunyikan.
"Kami masih tetap teman, tapi kami saling beradu argumen untuk tampil lebih baik. Kami melakukannya untuk memperbaiki keadaan," ujar Vidic.
United menelan 12 kekalahan sepanjang musim. Biasanya, jumlah kekalahan sebanyak itu mereka dapat dalam dua musim, namun kini mereka merangkumnya hanya dalam semusim saja.
Banyak pendapat beredar mengapa 'Setan Merah' bisa sampai jeblok. Eks bek Liverpool yang kini jadi penganalisis pertandingan untuk Sky Sports, Jamie Carragher, menyebut bahwa David Moyes tidak menunjukkan taktik yang menjanjikan. Permainan United minim kreasi.
Sementara, pendapat lainnya menyebut bahwa banyak pemain United tampil di bawah standar. Komentator Inggris lainnya, Graeme Souness, sampai menyebut bahwa United membutuhkan empat transfer windows untuk bisa kembali ke performa terbaiknya.
Moyes memang sudah berencana untuk membangun ulang skuat pada bursa transfer musim panas mendatang, tetapi dia sudah keburu dipecat.
Vidic mengungkapkan, para pemain United tidak memiliki masalah dengan Moyes. Hanya saja, dia menyebut bahwa para pemain United lebih nyaman bermain dengan gaya Ryan Giggs --yang ditunjuk jadi manajer interim selepas Moyes pergi-- yang punya kemiripan dengan gaya bermain Sir Alex Ferguson.
"Ada transisi. Kami mendapatkan seseorang yang melihat sepakbola dengan sudut pandang berbeda dan dia akan meminta tim bermain dengan cara yang dia inginkan. Ryan memiliki sudut pandang yang sama dengan Sir Alex Ferguson dan dia punya pendekatan yang sama dengan Sir Alex. Para pemain lebih nyaman dan terbiasa dengan cara mereka."
"Saya tidak mengatakan cara David Moyes buruk, tapi para pemain lebih nyaman bermain dengan gaya tertentu. Kami harus menghormati di mana diri kami berada dan apa yang kami wakili, tidak ada gunanya membicarakan seseorang yang tidak berada di sini lagi, yang semua orang tahu dia kehilangan pekerjaannya karena gagal meraih apa yang ingin dia capai."
"Jawaban terbaik yang bisa saya berikan adalah, dia (Moyes) berusaha amat keras. Dia seorang profesional. Dia berkomitmen penuh pada pekerjaannya dan sangat ingin meraih kesuksesan. Sayangnya, itu tidak terjadi dan kami semua menyayangkannya," ucap Vidic.
Vidic sendiri mengakui bahwa para pemain United tidak bermain dengan standar yang sama seperti ketika ditangani Sir Alex. Namun, kini semuanya sudah berlalu. Vidic sendiri sudah melakoni partai terakhirnya dengan United akhir pekan lalu dan akan pergi ke Italia musim depan.
Dengan kepergian Vidic dan partner sehatinya di lini belakang, Rio Ferdinand, perubahan memang sedang terjadi di dalam skuat United. Hanya putaran waktu yang bakal menjawab apakah perubahan itu akan membawa mereka keluar dari kemuraman atau tidak.
(roz/a2s)











































