Spurs bertekad untuk masuk ke empat besar pada musim 2012/2013. Tetapi, performa buruk pada pertengahan hingga akhir musim membuat mereka gagal mencapai target tersebut. Yang lebih buruk, Spurs harus dilewati oleh rival berat mereka, Arsenal.
Mereka pun memancang target serupa pada musim 2013/2014. Selain finis di urutan empat besar, Spurs juga bertekad untuk setidaknya meraih satu trofi juara di akhir musim.
Target ambisius ini dibarengi dengan pembelian pemain besar-besaran. Dijualnya Gareth Bale dengan harga 80 juta poundsterling lebih membuat Spurs punya dana besar. Mereka lantas membelanjakan uang hingga 105 juta pounds untuk mendatangkan tujuh orang pemain; Paulinho, Nacer Chadli, Roberto Soldado, Etienne Capoue, Vlad Chriches, Christian Eriksen, dan Erik Lamela.
Belanja besar-besaran ini dipandang sebagai usaha Spurs untuk fokus di lebih dari satu kompetisi. Namun, pada kenyataannya, tidak semua pemain baru yang dibeli itu bersinar.
Soldado, sebagai contoh, sempat kesulitan untuk membobol gawang lawan. Soldado bermain sebanyak 28 kali sepanjang musim 2013/2014, tapi hanya mampu mencetak 6 gol. Sementara Lamela, pemain termahal yang dibeli Spurs pada musim panas kemarin, yakni 26 juta poundsterling, kesulitan untuk menembus starting XI. Lamela pada akhirnya harus berkutat dengan cedera.
Sisanya, hanya Paulinho dan Eriksen yang memberikan sedikit pencerahan dari performa mereka di lapangan. Sederet hasil jeblok di liga akhirnya membuat Spurs harus memecat manajer. Andre Villas-Boas didepak dan digantikan oleh Tim Sherwood.
Ketika Villas-Boas dikabarkan memiliki banyak masalah dengan pemain, termasuk Emmanuel Adebayor, Sherwood, yang sebelumnya menjabat sebagai salah satu pelatih tim utama, disebut-sebut lebih dekat dan dihormati oleh para pemain.
Sherwood kemudian mengembalikan Adebayor ke tim utama dan kepercayaan itu dibalas oleh penyerang asal Togo tersebut dengan gol. Total, Adebayor bermain sebanyak 21 kali dan menyumbang 11 gol. Ini menjadikannya top skorer klub di liga.
Toh, kendati suasana tim membaik di tangan Sherwood, performa Spurs tetap tidak konsisten. Akhirnya, Spurs pun harus puas finis di urutan keenam klasemen. Kursi manajer pun berganti lagi.
Sherwood didepak meski dia punya kontrak selama 18 bulan dengan klub. Dari pernyataan resmi Spurs, kontrak Sherwood punya klausul pisah di akhir musim dan Spurs memutuskan untuk mengaktifkan klausul tersebut.
Di tangan Sherwood, Spurs sebenarnya memiliki rataan mencetak gol lebih baik. Dari catatan Squawka, Spurs rata-rata mencetak 1,82 gol per pertandingan di bawah arahan Sherwood. Sementara di bawah arahan Villas-Boas, Spurs mencetak rata-rata 1,07 gol per pertandingan.
"Kami harus terus melangkah karena musim sudah berakhir. Sekarang kami harus memasuki proses untuk mencari pelatih kepala baru," kata Chairman Spurs Daniel Levy di situs resmi klub.
Ada dua nama yang disebut-sebut dituju Spurs untuk jadi manajer baru mereka. Yang pertama adalah manajer Ajax Amsterdam, Frank de Boer, dan yang kedua adalah manajer Southampton, Mauricio Pocchettino.
(roz/rin)











































