Kasta Teratas Inggris yang Makin Ketat

Premier League 2014/2015

Kasta Teratas Inggris yang Makin Ketat

- Sepakbola
Senin, 11 Agu 2014 11:35 WIB
Kasta Teratas Inggris yang Makin Ketat
Arsenal FC via Getty Images/Stuart MacFarlane
Jakarta -

Sejak tahun 2010, belum pernah ada lagi juara Premier League yang berhasil mempertahankan gelarnya. Tiap musim berjalan, selalu ada kemungkinan persaingan kasta teratas sepakbola Inggris itu berlangsung makin ketat.

Sementara ada argumen-argumen bahwa Premier League bukanlah liga terbaik di Eropa, mengingat klub-klub Jerman atau Spanyol belakangan lebih menguasai kompetisi antarklub Eropa, ada pendapat lain juga yang menyebut bahwa Premier League adalah salah satu liga paling kompetitif.

Simak catatan berikut: Setelah Manchester United mempertahankan gelar juara pada tahun 2009, belum ada lagi klub yang bisa mempertahankan gelar juara. Berturut-turut sejak 2010, Premier League memunculkan Chelsea, United, City, lalu United lagi, dan terakhir City lagi sebagai juara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan catatan demikian, menarik untuk disimak apakah City mampu mempertahankan gelar juara mereka pada musim 2014/2015 ini.

Pertanda bahwa Premier League tidak akan berjalan mudah untuk tim besutan Manuel Pellegrini itu sudah terlihat pada laga Community Shield, Minggu (11/8) kemarin. Menghadapi Arsenal, City takluk 0-3.

Kendatipun Community Shield tidak berarti apa-apa, Pellegrini setidaknya bisa mendapatkan gambaran bahwa tim-tim rival juga telah meningkatkan kekuatan skuat. Itu baru Arsenal, belum Liverpool ataupun Chelsea. Belum pula United, yang kini sedang dipermak gaya mainnya oleh manajer anyar, Louis van Gaal.

Menarik memang mengamati persaingan klub-klub top Premier League dalam beberapa musim terakhir. Salah satu catatan yang bisa diambil adalah, laga antara tim-tim besar Premier League belakangan acapkali menghasilkan bentrokan menarik.

Ambil contoh bagaimana United menundukkan Arsenal 8-2, namun pada musim yang sama mereka justru kalah 1-6 oleh City. Masih di musim 2011/2012, Arsenal yang tersendat-sendat di awal mampu menundukkan Chelsea 5-3 di Stamford Bridge.

Musim kemarin, ada skor-skor mencolok yang, sayangnya buat fans Arsenal, melibatkan tim kesayangan mereka itu; City 6-3 Arsenal, Liverpool 5-1 Arsenal, Chelsea 6-0 Arsenal. Dan menariknya lagi, kendatipun United tampil buruk musim lalu, tak satu kali pun Arsenal bisa menundukkan mereka.

Namun, patut diingat juga, kemenangan Arsenal di final Piala FA telah menumbuhkan kepercayaan diri mereka. Setelah sembilan tahun puasa gelar, The Gunners sukses meraih dua trofi dalam kurun waktu tiga bulan --dengan Community Shield sebagai yang paling anyar.

Kepercayaan diri Arsenal juga terlihat dari bagaimana komentar Arsene Wenger dalam menanggapi isu transfer pemain. Dengan mulai lunasnya utang untuk membangun stadion, Arsenal kini bisa membeli pemain-pemain bintang seperti Mesut Oezil pada musim kemarin dan Alexis Sanchez pada musim ini.

Arsenal juga mampu menolak pinangan United untuk Thomas Vermaelen dan memilih untuk melepasnya ke Barcelona. Langkah ini bertolak belakang dengan langkah transfer mereka ketika menjual sejumlah pemain utama ke City dan Robin van Persie ke United. Meski kehilangan Bacary Sagna yang menolak untuk memperpanjang kontrak, Wenger kini berani menyatakan bahwa tidak akan ada lagi eksodus pemain bintang.

Selalu Ada Kans untuk Sebuah Kejutan

Di luar tim-tim seperti City, United, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool, selalu ada kans untuk tim-tim kejutan. Ingatlah bagaimana Everton musim kemarin melejit bersama Roberto Martinez. Ingat pula bagaimana Southampton jadi kuda hitam ketika masih ditangani oleh Maurico Pochettino.

Kini Martinez memasuki musim keduanya bersama Everton dan menarik untuk disimak bagaimana hasilnya. Pochettino kini sudah pindah ke Tottenham Hotspur yang masih saja penasaran untuk menyeruak masuk ke daerah elite.

Relatif meratanya kekuatan tim-tim papan tengah juga membuat kemungkinan klub papan atas tersandung ketika menghadapi mereka makin besar. Ambil contoh bagaimana perjalanan Chelsea musim kemarin.

The Blues menelan 6 kekalahan dan 7 hasil imbang sepanjang musim, yang mayoritas mereka dapat ketika berhadapan dengan tim-tim papan tengah. Tim besutan Jose Mourinho itu pernah kalah 0-2 dari Newcastle United, kalah 2-3 dari Stoke City, kalah 0-1 dari Aston Villa, kalah 0-1 dari Crystal Palace, kalah 1-2 dari Sunderland ataupun ditahan imbang 0-0 oleh West Ham United.

Deretan hasil buruk ketika berhadapan dengan tim-tim papan tengah itu membuat kans juara Chelsea terkikis perlahan-lahan. Kemenangan atas tim-tim papan atas seperti Arsenal ataupun Liverpool jadi tidak berarti.

Buat tim papan atas, justru laga-laga menghadapi tim-tim papan tengah atau bawahlah yang paling penting. Terkadang, tidak masalah ketika takluk menghadapi sesama tim papan atas --walaupun gengsi pasti jatuh--, selama mereka bisa meraup poin maksimal meghadapi tim-tim papan atas dan tengah. Ingat, liga bukanlah lomba lari sprint, melainkan lari ketahanan. Mereka yang mengumpulkan poin terbanyaklah yang jadi juara.

Hanya saja, sekarang tim-tim papan tengah setidaknya sudah mampu menarik minat pemain-pemain bagus untuk bermain bagi tim mereka. Imbasnya, mereka tidak bisa begitu saja diinjak-injak oleh para raksasa.

Meratanya pembagian hasil dari hak siar televisi disinyalir jadi salah satu penyebab tumbuhnya kekuatan dari tim-tim papan tengah. Dalam catatan yang dilansir oleh Premier League sendiri, pada musim 2013/2014, ke-20 klub di Premier League mendapatkan jatah rata dari hak siar, yakni sebesar 55 juta poundsterling (hasil dari equal share yang diberikan Premier League + overseas tv rights).

Mereka kemudian mendapatkan tambahan penghasilan lagi berdasarkan posisi di akhir musim. Sebagai contoh, City yang finis di urutan tertas mendapatkan tambahan 24 juta pounds, sementara Cardiff City yang finis di posisi buncit mendapatkan 1,2 juta pounds. Stoke City yang finis di urutan 10 mendapatkan 13,2 juta pounds dan Crystal Palace yang finis di urutan ke-11 mendapatkan 12 juta pounds.

Itu masih belum termasuk fee yang dibayarkan untuk tiap laga yang ditayangkan secara live. Tentu, untuk yang satu ini, pemasukan ke-20 klub Premier League berbeda lagi. Contoh, Everton mendapatkan 12 juta pounds dari 16 laga yang ditayangkan secara live, sedangkan Fulham mendapatkan 7,5 juta pounds dari 7 laga yang ditayangkan secara live.

Untuk urutan pembagian penghasilan dari hak siar semacam ini, Premier League memang disebut lebih transparan dan lebih adil ketimbang La Liga. Oleh karenanya, jangan heran jika tim kecil seperti Cardiff bisa mendapatkan total penghasilan sampai 63,7 juta pounds dalam semusim.

Imbasnya, seperti yang sudah dikatakan di atas, kans untuk melihat tim besar tersandung di tengah-tengah makin besar.

(roz/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads