Kalah empat kali dari 6 pertandingan di kandang sendiri. White Hart Lane tiba-tiba dirasakan seperti sebuah tempat yang tidak mengenakkan bagi para pemain Tottenham Hotspur.
Ketika mereka kalah 1-2 dari Stoke City hari Minggu lalu, sebagian suporter lebih cepat beranjak dari tempat duduknya di stadion. Mereka juga mengeluarkan apa saja yang bisa menunjukkan ekpresi kekecewaan: siulan panjang, teriakan "huuu...."
"Ketika Anda bermain di depan publik sendiri, kamu pasti ingin mereka mendukung Anda. Tapi saat ini adalah momen yang menyedihkan, dan keluargamu tidak menyambutmu pulang," demikian "curhat" Emmanuel Adebayor, seperti tertuang di situs BBC, Selasa (11/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika Anda bermain di kandang sendiri dan fans Anda sudah menyoraki, itu bikin tambah berat buat pemain."
The Lilywhites saat ini berada di peringkat ke-12 di klasemen sementara Liga Inggris. Mereka baru menang 4 kali tapi sudah kalah 5 kali dari 11 laga.
"Jujur saja, aku rasa banyak pemain, ketika mereka memakai seragamnya dan masuk ke lapangan, pikiran mereka berat," sambung Adebayor.
"Aku memang di bangku cadangan waktu melawan Stoke. Walaupun tak bisa melihat semuanya, tapi aku bisa melihat tak ada pemain yang ingin main. Ini berat untuk para pemain."
Tottenham sedang seperti ini sejak ditangani Mauricio Pochettino di musim panas ini. Padahal manajer Argentina itu digadang-gadang akan menjadikan Spurs lebih baik, karena dia dinilai sukses besar selama membesut Southampton sejak awal 2013.
"Dia manajer yang bagus kok," sahut Adebayor, yang baru mencetak dua gol dari 10 pertandingan di liga.
"Kami cuma butuh cara untuk memahami apa yang ingin dia sampaikan kepada kami, bagaimana dia ingin kami bermain, dan mewujudkan itu di lapangan."
Pochettino adalah manajer permanen ke-8 yang direkrut Tottenham dalam 13 tahun di era pemilik klub, Daniel Levy.
(a2s/cas)










































