Pertemuan antara Manchester United dan Liverpool memang selalu menarik untuk disimak. Bukan apa-apa, keduanya adalah rival abadi. Terlebih, rivalitas itu sebenarnya menembus batas lapangan hijau.
Ya, persaingan antara 'Setan Merah' dan 'Si Merah' tercipta bukan hanya karena rivalitas di lapangan saja. Persaingan kedua klub tersebut lebih dulu diawali oleh rasa sebal di antara kedua kota tempat bermarkasnya kedua klub, yakni Manchester dan Liverpool.
Pada abad ke-19, Liverpool dengan Albert Dock-nya merupakan kota pelabuhan paling terkemuka. Pelabuhan milik Liverpool jadi gantungan banyak kota industri di wilayah Barat Daya dan Barat Laut Inggris, termasuk Manchester.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, lama-lama pajak dan sewa dermaga yang ditetapkan Liverpool semakin mahal. Ini yang membuat para pengelola industri di Manchester kesal. Akhirnya mereka pun membuat solusi sendiri: membuat kanal supaya kapal-kapal bisa langsung masuk ke Manchester tanpa harus singgah di Liverpool dulu.
Dengan adanya kanal tersebut, ketergantungan akan Liverpool pun sirna. Sementara imbasnya untuk Liverpool, kanal tersebut telah membuat pemasukan kota mereka dari sewa dermaga dan pajak menjadi turun drastis.
Dari sanalah rivalitas tersebut bermula. Seiring berjalannya waktu, rivalitas antara Manchester dan Liverpool menjalar ke mana-mana, termasuk ke lapangan hijau.
Di tanah Inggris, United boleh menepuk bangga dengan raihan gelar Liga Inggris terbanyak, yakni 20 gelar. Namun, Liverpool bakal membalas bahwa di daratan Eropa merekalah yang berjaya dengan catatan 5 trofi Liga Champions.
Eks bek United yang kini jadi pundit untuk Sky Sports, Gary Neville, pernah mengutarakan dengan gamblang bahwa persaingan kedua klub juga diiringi rasa sebal di antara kedua penduduk kota. Neville, yang lahir di Bury --masih di wilayah Greater Manchester--, tidak pernah tahan dengan segala hal yang berbau Liverpool.
Namun, secara fair, Neville juga mengakui bahwa rasa sebal tersebut juga berasal dari berbagai sukses yang diraih Liverpool --sebagai sebuah klub sepakbola-- semasa dia kecil.
"Saya tidak tahan dengan Liverpool, saya tidak tahan dengan orang-orang Liverpool. Ketika saya tumbuh besar, ada rasa cemburu yang tidak bisa ditahan-tahan. Nyatanya, saya memang iri pada semua sukses yang didapatkan oleh tim mereka," ucapnya.
Kapten Liverpool, Steven Gerrard, juga punya cerita sendiri soal rivalitas ini. "Teman saya punya kostum Bryan Robson. Kami sedang bermain bola dan saya bertanya, apakah saya boleh jadi Robbo (panggilan Robson, red) barang sebentar," ujar Gerrard.
"Ayah saya tahu dan mengamuk, dia tak mau anaknya memalukan nama Gerrard. Saya pikir, kami harus pindah!"
Akhir pekan ini, Minggu (14/12/2014), kedua tim akan kembali bertemu di Old Trafford. United sedang berada di posisi ketiga, sementara Liverpool kesembilan. Namun, di posisi berapa pun kedua tim berada, rivalitas mereka selalu lebih dari itu.
====
Baca Juga: Manchester dan Liverpool: Semestinya Perkawinan Yang Serasi
(roz/a2s)










































