Gary Neville dan Jamie Carragher kini duduk berdampingan sebagai analis sepakbola dan satu atau dua kali melempar candaan. Sulit untuk dicerna mengingat dulu keduanya dengan gigih membela klub masing-masing, Manchester United dan Liverpool.
Candaan keduanya terkadang menjurus kepada olok-olok ringan. Pernah, pada suatu kesempatan Carragher menyebut bahwa tidak ada seorang pun bek muda yang ingin tumbuh dan berkembang menjadi Gary Neville. Mendengar ini, Neville hanya bisa tersenyum.
Carragher melontarkan hal tersebut untuk menggambarkan bahwa kebanyakan fullback yang beredar saat ini adalah seorang bek tengah ketika masih muda. Jarang ada seorang fullback yang benar-benar dididik untuk jadi fullback. Bahkan Neville --yang dulunya adalah fullback kanan-- adalah seorang bek tengah semasa junior. Dari situlah Carragher berkesimpulan, tidak ada yang mau jadi Gary Neville dan itu pun dibenarkan oleh Neville sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendengar pemaparan Neville tersebut, Carragher langsung berucap, "Kau pasti bersembunyi di kolong tempat tidur." Tidak mau kalah, Neville pun membalas, "Ya, jika kau malingnya."
Kontan, Carragher tergelak mendengarnya. Carragher tahu bahwa ucapan Neville merujuk pada stereotip kota Liverpool yang konon banyak maling dan copet. Bahkan rumah Steven Gerrard saja pernah kemalingan.

Di luar candaan-candaan semacam itu, Neville dan Carragher dinilai sebagai analis sepakbola kelas wahid saat ini. Berbeda dengan komentator-komentator kebanyakan, keduanya terbiasa memaparkan data dan insight khusus untuk menelaah suatu pertandingan atau peristiwa di lapangan hijau.
Kekompakan mereka sebagai analis sepakbola jarang terlihat selama masih bermain dulu. Membela United dan Liverpool, jelas Neville dan Carragher ada di kubu yang berseberangan. Hasrat dan loyalitas keduanya kepada klub masing-masing tidak terbantahkan. Keduanya juga hanya bermain untuk satu klub sepanjang karier mereka.
Neville juga pernah mengutarakan rasa sebalnya terhadap hal-hal yang berbau Liverpool atau kota Liverpool. Namun, dia juga fair ketika mengakui bahwa kecemburuannya itu ada karena sukses Liverpool di masa lampau.
Di sisi lain, Carragher pernah mengatakan bahwa seberapa besar rivalitas kedua klub, sulit untuk benar-benar membenci. Malah, menurutnya, ada rasa respek yang tidak bisa ditahan-tahan.
"Saya selalu punya respek kepada mereka. Mereka adalah klub yang layak, seperti halnya kami, dan sudah seharusnya mereka punya respek kepada kami juga. Mereka bukanlah klub sembarangan atau berkepala besar. Chelsea sekarang seperti itu, atau sudah dari dulu begitu. Sementara di United, tidak pernah benar-benar ada pemain yang saya pikir: 'Saya benci dia.'," kata Carragher suatu waktu seperti dilansir Telegraph.
Legenda hidup United yang kini jadi asisten manajer klub, Ryan Giggs, juga berpendapat sama dengan Carragher. "Saya pikir, saya selalu menaruh respek yang layak kepada Liverpool, mengingat sejarah yang mereka miliki dan fakta bahwa mereka tim yang hebat. Tapi, saya juga tahu bahwa saya mendapatkan kepuasan lebih jika mengalahkan mereka," kata Giggs.
Hubungan sebal tapi respek ini juga tergambar dalam cerita eks manajer Liverpool, Kenny Dalglish, sesaat setelah tragedi Hillsborough. "Ketika tragedi Hillsborough terjadi pada 1989, Sir Alex Ferguson langsung menelepon untuk menawarkan bantuan apa pun yang dia bisa."
"Orang di luar sana punya opini berbeda-beda tentang dia. Beberapa suka, beberapa benci. Tapi, ketika sesuatu yang buruk terjadi, Alex adalah salah seorang yang langsung menawarkan bantuan," kata Dalglish.


(roz/a2s)











































