Seorang bintang lapangan bisa lahir dari mana saja, tak terkecuali dari akademi-akademi sepakbola sederhana. Dari sana pulalah, Wilfried Bony merintis jejaknya menuju pentas Eropa.
Gairah untuk mengolah di kulit bundar sudah terlihat sejak Bony masih belia. Awalnya, dia hanya bermain sepakbola di jalanan dan turnamen antarsekolah atau antarkota. Lewat kompetisi-kompetisi itu, dia memupuk mimpinya untuk menjadi pesepakbola profesional dan tampil di kompetisi level tertinggi.
Untuk mematangkan kemampuannya, Bony bergabung dengan akademi sepakbola Cyrille Domoraud di usai 12 tahun. Akademi milik Domoraud --mantan penggawa dan kapten tim nasional Pantai Gading-- itu terletak di kota kelahiran Bony, Bingerville, 15 kilometer dari ibu kota Pantai Gading, Abidjan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia sangat berhati-hati dengan bola, tak kesulitan dengan bola, seorang yang penuh teknik. Jadi saya terus memantaunya," kata Domoraud.
Bony menghabiskan tiga tahun di akademi milik Domoraud. Selama menimba ilmu, pemain kelahiran 10 Desember 1988 itu tinggal di salah satu dari lima asrama yang ada di komplek akademi tersebut.
"Dia tidur di sini," kata Carmel N'Guessan, sekjen akademi Doromaud, sambil menunjuk sebuah kasur lusuh di sebuah dipan bertingkat tiga. Kasur Bony ada di tingkat paling bawah. "Ini adalah tempatnya," katanya lagi.
Akademi sepakbola milik Domoraud jauh dari kata mewah. Tidak ada kolam renang, ruang gym, atau lapangan tenis. Hanya ada asrama, satu gedung sekolah berdinding beton, kantor administrasi, dan sebuah kantin.
Akademi sepakbola Domoraud jauh berbeda jika dibandingkan dengan akademi ASEC Mimosa. Akademi yang terletak di Abidjan itu merupakan 'kawah candradimuka' bagi para calon bintang Pantai Gading. Toure bersaudara, Salomon Kalou, dan Gervinho adalah nama-nama yang lahir dari sana.
Meski bukan akademi kelas satu, bukan berarti akademi milik Domoraud tak menghasilkan pemain berkualitas. Selain Bony, ada Jean Michael Seri yang kini merumput bersama Porto, Xavier Kouassi (FC Sion, Swiss), dan Wilfried Kanon yang kini berkarier di Eredivisie, Belanda.
Bony sendiri kini sudah punya nama di daratan Eropa, tempat yang selama ini dia impikan untuk kariernya di lapangan hijau. Setelah bertualang di Sparta Praha dan Vitesse, Bony kemudiah hijrah ke Swansea City di tahun 2013.
Sejak saat itu, Bony menjelma menjadi salah satu mesin gol di Premier League. Punya fisik yang kokoh, Bony tak segan untuk berduel dan berebut bola dengan pemain belakang lawan. Sejak bergabung dengan The Swans pada musim panas 2013, sudah 25 gol dilesakkan oleh Bony di Premier League.
Penampilan mengilap Bony itu membuat klub sebesar Manchester City sampai merogoh kocek hingga 28 juta poundsterling. Jumlah itu menjadikan Bony sebagai pemain Afrika termahal, mengungguli Michael Essien, Yaya Toure, dan Didier Drogba.
Keberhasilan Bony menembus klub elit Premier League jelas membuat akademinya bangga. Anak-anak yang kini menimba ilmu di sana pun terinspirasi untuk mengikuti jejak Bony. Doumbia Aidianu salah satunya. Remaja berusia 16 tahun itu merasa gembira luar biasa bisa berlatih di tempat yang sama dengan Bony.
"Saya pikir dia adalah pemain hebat, bahkan luar biasa. Dia adalah selebriti dan itu membuat saya bahagia. Semoga dia jadi pemain terbaik Afrika," kata Aidianu yang juga penggemar City itu.
Bony memang belum membuktikan apa-apa di City. Tapi bagaimanapun, Bony sudah menjadi kebanggaan akademi sederhana di kota kelahirannya itu.
"Dia membuat negara bangga. Ketika kita bicara soal Pantai Gading, kita berpikir soal Didier Drogba, Yaya Toure, yang merupakan salah satu transfer terbesar di Inggris," ujar Domoraud.
"Dan suatu hari, terima kasih kepada Tuhan, akan tiba giliran Wilfried Bony. Dia adalah kebanggaan kami dan dia pantas mendapatkannya," katanya seperti diwartakan BBC. (nds/din)











































