'Klub-klub Inggris Tak Berbelanja dengan Cerdas di Bursa Transfer'

'Klub-klub Inggris Tak Berbelanja dengan Cerdas di Bursa Transfer'

Meylan Fredy Ismawan - Sepakbola
Jumat, 25 Sep 2015 03:19 WIB
Klub-klub Inggris Tak Berbelanja dengan Cerdas di Bursa Transfer
Roberto Firmino dan Memphis Depay (Man Utd via Getty Images/Matthew Peters)
Berlin - Mantan kiper Arsenal, Jens Lehmann, mempertanyakan manuver klub-klub Inggris di bursa transfer. Menurut Lehmann, ketidakcerdasan klub-klub Premier League jadi sasaran empuk klub di luar Inggris.

Klub-klub top Premier League memang terhitung banyak mengimpor pemain pada musim panas ini. Para pemain pendatang baru itu datang dengan nilai transfer yang nilainya tidak kecil.

Yang terbesar tentu saja Kevin De Bruyne, yang dibeli Manchester City dari Wolfsburg seharga 55 juta poundsterling. Lalu ada Anthony Martial, bintang mudah AS Monaco yang pindah ke Manchester United dengan biaya 36 juta poundsterling. Nama lainnya misalnya Nicolas Otamendi (dari Valencia ke City, 32 juta poundsterling), Memphis Depay (dari PSV Eindhoven ke MU, 25 juta poundsterling), dan Roberto Firmino (dari Hoffenheim ke Liverpool, 29 juta poundsterling).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Lehmann, klub-klub liga lain akan sangat senang bertransaksi dengan klub-klub Premier League karena mereka bisa mendapatkan uang dalam jumlah yang lebih besar daripada nilai si pemain itu sendiri.

"Tim-tim Inggris membayar dengan harga yang terlalu tinggi untuk pemain, untuk keuntungan liga-liga lainnya," ujar Lehmann di Soccerway.

"Seorang pemain baru berharga 20 juta euro atau 40 juta euro? Liga-liga lain akan sangat bersyukur mendapatkan uangnya. Mereka tahu jumlah itu terlalu banyak.

"Itu sepenuhnya omong kosong. Anda tak bisa mengatakan mereka (klub-klub Inggris) berbelanja pemain dengan cerdas."

Meski sudah mendatangkan pemain-pemain baru dengan harga mahal, klub-klub Inggris tak terlalu sukses di pentas Eropa. Klub Inggris terakhir yang sukses di Eropa adalah Chelsea, yang jadi juara Liga Champions 2012 dan Liga Europa 2013.

"Jika Anda melihat empat tim Inggris yang tampil di Liga Champions musim lalu dan tak satu pun yang mencapai perempatfinal, itu sangat mengecewakan. Cepat atau lambat mereka akan butuh sebuah perombakan," kata Lehmann.

(mfi/mrp)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads