Keberhasilan Leicester City memuncaki klasemen Premier League layaknya sebuah cerita dongeng. Banyak yang meyakini mereka tak akan bertahan lama di sana. Kalau begitu, bisakah The Foxes setidaknya finis di empat besar?
Kemenangan atas Newcastle United dan hasil buruk yang didapat klub-klub papan atas mengantar Leicester bertengger di puncak klasemen Premier League selepas pekan ke-13. Kemenangan demi kemenangan yang didapat Leicester - yang dimotori Jamie Vardy - adalah kejutan besar di musim 2015/2016 ini.
Sukses mengalahkan Manchester United, Manchester City, dan Arsenal untuk bisa menguasai posisi nomor satu adalah sebuah cerita dongeng buat klub yang sepanjang sejarah prestasi tertingginya cuma jadi runner up Liga Inggris musim 1928/1929 itu. Sebagai pembanding, di periode ini musim lalu Leicester adalah penghuni dasar klasemen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah mencatat kalau dalam 12 tahun terakhir hanya ada empat tim yang memuncaki klasemen di pekan 13 namun kemudian gagal jadi juara di akhir musim.
Tanpa mengecilkan hasil kerja Claudio Ranieri, sulit untuk menjagokan Leicester bisa bertahan di puncak klasemen dan meraih titel juara Liga Primer. Jadi, di mana Leicester akan menuntaskan musim ini?
Acuan statistik yang dirasa lebih rasional untuk Leicester adalah finis di empat besar. Sejak Premier League menggunakan sistem 38 pekan per musim, cuma ada satu klub yang gagal finis dalam empat besar setelah memuncaki klasemen di pekan 13. Klub itu adalah Aston Villa di musim 1998/1999, di mana mereka akhirnya duduk di posisi enam.
Claudio Ranieri sendiri tak mau jemawa dengan capaian anak didiknya. Pelatih asal Italia itu bertahan pada target mereka di awal musim, membidik 40 poin di musim ini - mengesampingkan fakta bahwa mereka sudah punya 28 angka sampai pekan lalu.
"Saya punya tugas untuk menjaga kaki kami tetap berada di bumi. Kami akan membidik 40 poin, dan kita lihat saja," ucap Ranieri di Independent.
(din/krs)










































