Ini adalah musim di mana Arsenal punya kans amat besar menjuarai liga. Sampai mana mereka melangkah? Asal penyakit kambuhan bernama inkonsistensi tidak muncul, The Gunners bisa duduk di atas takhta.
Arsenal setidaknya sudah membuktikan diri bahwa mereka mampu keluar dari situasi sulit musim ini. Lihat kiprah mereka di Liga Champions: dari terancam tidak lolos dari fase grup, kini mereka menjadi salah satu wakil Inggris di babak 16 besar.
Kemampuan Arsenal untuk menang --atau setidaknya tidak kalah-- dalam laga-laga berlabel "big match" juga bisa dijadikan patokan. Kecuali melawan Chelsea, Arsenal bisa menundukkan atau mengimbangi tim-tim "raksasa". Mereka sukses menundukkan Manchester United 3-0 dan Manchester City 2-1, lalu bermain imbang 0-0 dengan Liverpool dan 1-1 dengan Tottenham Hotspur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eks penyerang Arsenal, Thierry Henry, meyakini bahwa mantan timnya itu punya segala modal untuk menjadi juara. Satu-satunya yang dikhawatirkan Henry hanyalah cedera pemain, hantu yang kerap menggerogoti Arsenal dari dalam.
"Buat saya, skuat Arsenal sekarang sudah cukup bagus untuk menjuarai liga," kata Henry dalam sebuah sesi tanya jawab yang dikutip Express.
"Yang kami butuhkan adalah pelapis untuk memastikan kami punya seorang pemain yang dapat mengawal benteng seandainya (Mathieu) Flamini cedera."
Flamini memang bukan satu-satunya gelandang bertahan di skuat Arsenal. 'Tim Gudang Peluru' juga punya Francis Coquelin. Gelandang asal Prancis itu dipuji lantaran begitu kokoh melindungi lini bertahan, sampai kemudian ia cedera lutut pada laga melawan West Bromwich Albion (November lalu) dan diperkirakan absen tiga bulan.
Sebelum cedera, Coquelin punya catatan statistik yang cukup menarik. Dalam 12 penampilan di Premier League, ia melakukan 32 intersep sukses dan 13 clearance, membuatnya rata-rata melakukan 4 defensive action per laga. Coquelin juga dipuji lantaran punya kemampuan tekel relatif bagus, Squawka mencatat akurasi tekelnya mencapai angka 53%.
Tanpa Coquelin, Arsenal kini mengandalkan Flamini (sebagai gelandang bertahan) dan Aaron Ramsey (sebagai box-to-box midfielder) di depan lini pertahanan. Ramsey, kendati memiliki tipe yang jelas berbeda dari Coquelin, belakangan mendapatkan pujian.
Gelandang asal Wales itu dinilai tampil efektif sebagai box-to-box midfielder. Ia tidak hanya bersih dalam hal mencuri bola dari lawan, tetapi juga cukup cepat untuk naik membantu serangan setelahnya. Ini membuat Arsenal bisa membangun serangan balik dengan cepat.
Kolomnis The Guardian, Michael Cox, mencontohkan salah satu gol Arsenal ke gawang Aston Villa, yang mana dicetak oleh Ramsey. Proses terciptanya gol itu diawali oleh tekel Ramsey terhadap Idrissa Gueye di depan kotak penalti Arsenal. Usai bola direbut dari kaki Ideye, para pemain Arsenal pun langsung naik untuk melakukan serangan balik.
Hebatnya, Ramsey tidak hanya berdiam diri. Usai melakukan tekel, ia langsung berdiri dan berlari menyeberangi lapangan hingga sampai ke kotak penalti lawan. Serangan Arsenal tersebut berakhir dengan operan Mesut Oezil kepada Ramsey --yang tiba-tiba sudah berada di dalam kotak penalti Villa. Ramsey pun dengan tenang menceploskan bola ke dalam gawang.
Melihat skema serangan tersebut, boleh dibilang pergerakan Ramsey cukup efektif. Dia hanya menyentuh bola sebanyak 2 kali; pertama ketika menekel Gueye, kedua ketika menceploskan bola ke dalam gawang.
Kehadiran Ramsey menunjukkan bahwa, meskipun ditinggal Coquelin, lini tengah Arsenal tidak pincang-pincang amat. Di lini depan, sekali pun tidak ada Alexis Sanchez, pemain lain seperti Joel Campbell, Theo Walcott, dan Mesut Oezil masih bisa diandalkan. Oezil belakangan malah amat sangat bisa diandalkan lewat deretan assist-nya.
(roz/din)











































