Arsene Wenger dan Rasa Takutnya pada Pensiun

Arsene Wenger dan Rasa Takutnya pada Pensiun

Doni Wahyudi - Sepakbola
Rabu, 24 Agu 2016 16:06 WIB
Arsene Wenger dan Rasa Takutnya pada Pensiun
Foto: Laurence Griffiths/Getty Images
London - Oktober mendatang Arsene Wenger akan merayakan 20 tahun kiprahnya di Arsenal. Setelah karier yang sangat panjang di kursi manajer, pensiun memunculkan rasa takut untuknya.

Wenger datang ke Arsenal pada awal musim 1996/1997. Banyak sukses dia raih di satu dekade pertama bekerja sebagai manajer The Gunners, termasuk menjuarai Premier League tanpa sekalipun terkalahkan.

Tapi kini pria Prancis berusia 66 tahun itu menjalani situasi yang sangat berbeda. Titel Premier League terakhir dia dapat 13 tahun lalu, sementara dalam lima tahun terakhir dia hanya mempersembahkan dua trofi Piala FA dan Community Shield.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kondisi seperti itu, desakan agar Wenger meninggalkan Arsenal mulai terdengar keras dari tribun penonton. Karena kontrak Wenger akan habis di musim panas tahun depan, 2016/2017 ini menjadi penentuan buat Wenger apakah dia akan bertahan lebih lama lagi sebagai bos 'Gudang Peluru'.

Terlepas dari Arsenal yang lama tak dapat trofi mayor, pensiun ternyata jadi hal yang menakutkan buat Wenger. Begitu dia utarakan dalam buku Game Changers: Inside English Football yang ditulis Alan Curbishley.

"Ini (sepakbola) sudah berlangsung sepanjang hidup saya, dan jujur saja, saya sedikit takut dengan hari itu (saat pensiun). Karena semakin lama saya menunggu (pensiun), semakin sulit untuk mengilangkan candunya," ucap Wenger seperti dikutip dari Mirror.

Paul Gilham / Getty Images


Sudah tiga tahun berlalu sejak Wenger ditinggal sahabat sekaligus rival terberatnya, Sir Alex Ferguson. Beberapa kali bertemu setelah Fergie pensiun, Wenger tidak paham dengan kemampuan Fergie meninggalkan sepakbola dan tidak memiliki keinginan untuk kembali.

"Setelah Alex pensiun dan kami menghadapi mereka (Manchester United) dia mengirim pesan pada saya untuk menikmati minum bersamanya. Saya bertanya: 'Apakah kamu merindukannya?' Dia bilang: 'Sama sekali tidak'. Saya tidak memahaminya. Itu adalah kekosongan dalam hidup, terutama saat Anda menjalani hidup Anda dengan menunggu pertandingan selanjutnya dan mencoba memenanginya," terang Wenger lagi.

Sudah 30 tahun lebih secara beruntun Wenger menjadi pelatih. Dia mengawalinya dari Nancy di Liga Prancis pada tahun 1984, lalu berlanjut ke AS Monaco, dan Nagoya Grampus Eight sebelum tiba di Arsenal.

"Jika sebuah pertandingan berjalan benar-benar baik, saya mungkin pergi keluar bersama teman atau keluarga untuk makan malam atau minum-minum. Jika tidak maka saya akan langsung pulang ke rumah menyaksikan pertandingan sepakbola lainnya dan melihat manajer lain menderita."

"Jika kami kalah, itu merusak akhir pekan saya. Tapi saya sudah banyak belajar selama bertahun-tahun untuk berhadapan dengan kekecewaan dan kembali lagi. Yang membantu adalah saat Anda datang (ke klub) berbicara dengan asisten Anda, dan kadang ikut sesi latihan dan memulai lagi semuanya dengan fresh."

"Anda juga bisa bertahan di rumah selama tiga hari tanpa keluar, jika itu yang Anda inginkan, tapi pada titik tertentu hidup harus terus berjalan. Pertandingan selanjutnya yang memberi Anda harapan," tutur Wenger. (din/nds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads