Di arena Liga Champions, Leicester yang berstatus tim debutan membuat start sempurna. Mereka selalu menang pada tiga laga pertamanya di fase grup dan tak pernah kebobolan. Berkat tiga kemenangan di fase grup itu, peluang Leicester untuk menembus babak knockout terbuka lebar.
Pencapaian Leicester di Liga Champions sangat berbeda dengan di Premier League. Tim asuhan Claudio Ranieri itu terseok-seok dan sudah kalah empat kali dalam delapan pertandingan. Padahal, saat jadi juara musim lalu, mereka cuma kalah tiga kali di sepanjang musim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Sportradar]
Karena tak ingin makin jauh dari papan atas, Leicester pun bertekad memperbaiki posisi. Mengalahkan Crystal Palace di King Power Stadium, Sabtu (22/10/2016), akan membantu mereka mencapai target tersebut.
"Dengar, tim ini bisa melaju seperti musim lalu. Kami telah mendatangkan banyak pemain baru -- kami bisa mencapai posisi yang kami inginkan. Kami cuma harus melakukannya di kedua kompetisi," ujar bek Leicester, Danny Simpson, yang dikutip Sky Sports.
"Rekor kami di Liga Champions sangat bagus, tapi kami harus memastikan bahwa itu juga kami miliki di liga dan kami harus mendaki klasemen," imbuh Simpson.
"Kami tak mendengarkan apa yang orang-orang katakan di luar. Kami adalah sebuah tim. Kami bertemu, kami bicara satu sama lain. Kami adalah kumpulan orang-orang jujur dan kami tak suka kalah, apapun kompetisinya," tuturnya.
Salah satu problem utama Leicester di liga musim ini adalah jebloknya performa mereka pada laga-laga tandang. Mereka belum meraih satu poin pun dari empat laga tandang di Premier League.
"Kami menjalani laga-laga tandang dan kami adalah juara. Tim-tim lain makin ingin mengalahkan kami. Kami harus menghadapinya, berusaha lebih keras. Musim lalu sangat menakjubkan, tapi sekarang kami harus melupakannya," kata Simpson.
(mfi/rqi)











































