Belum lama sepertinya ketika Payet didapuk sebagai pemain terbaik West Ham musim lalu lewat torehan 12 gol dari 38 penampilan di seluruh kompetisi.
Dia pun jadi bintang baru klub London tersebut dan dielu-elukan fans. Tapi performa Payet lantas menurun di paruh pertama musim ini karena hanya bikin tiga gol dari 22 penampilan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Payet kemudian diasingkan dari tim sampai akhirnya mewujudkan kepulangannya ke Marseille, klub yang ditinggalkan pada musim panas 2015.
Payet lantas dicap sebagai pengkhianat dan mata duitan, tapi dia tak peduli dengan itu karena menganggap gaya main Slaven Bilic tak cocok dengannya.
"Cara kami bermain, sistem bertahan yang kami gunakan, benar-benar tidak cocok dengan saya," ujar Payet kepada L'Equipe.
"Anda bisa katakan bahwa saya sudah bosan. Saya menjalin kontak dengan Marseille terutama dengan pelatih Rudi Garcia, yang sangat saya kenal filosofinya," sambungnya.
"Saya memutuskan dengan cepat. Saya akan kehilangan enam bulan jika harus menunggu lebih lama."
"Ketika West Ham menjamu Hull, kami menang 1-0 dan ada empat peluang mereka yang membentur tiang. Semua orang senang di ruang ganti, tapi pemain terbaik malam itu adalah tiang gawang."
"Saya merasa saya tidak bisa berkembang di sini. Sementara saya justru menyesali itu. Saya butuh tantangan lain," tutup Payet.
(mrp/fem)











































