Park, Ginseng Buat "Setan Merah"

Park, Ginseng Buat "Setan Merah"

- Sepakbola
Senin, 11 Jul 2005 16:40 WIB
Park, Ginseng Buat Setan Merah
Jakarta - Jika Manchester United perlu tonik untuk memulihkan performanya musim ini, Park Ji-sung "mengandung" ginseng yang barangkali mujarab untuk membuat kondisi "Setan Merah" fit kembali.Park, sebagaimana rata-rata pemain Korea Selatan di Piala Dunia 2002 lalu, memperkenalkan dirinya kepada dunia sebagai pemain bertenaga kuda, rajin mengejar bola, dan tentu saja skil dasar yang lebih dari cukup.Soal skil, kalau tidak cukup tentu saja tidak membuat pemandu bakat MU merekomendasikan Sir Alex Ferguson untuk merekrutnya. Park telah memberi bukti bahwa ia memenuhi syarat berkarir di Eropa, dan bukannya semata-mata karena "titipan" Guus Hiddink, bekas pelatihnya di timnas Korea.Memang tak bisa dipungkiri bahwa Hiddink-lah orang yang paling berjasa membawa pemain berusia 24 tahun itu ke Eropa (Belanda) untuk mengasah kemampuan teknis dan mentalnya. Dan Park tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.Seperti juga kebanyakan pemain muda Korea, Park memulai karir profesionalnya di Jepang setelah lulus sekolah menengah atas. Klub yang pertama ia bela adalah Kyoto Purple Sanga dari 2000 sampai musim panas 2002, di mana negaranya menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Jepang.Di turnamen terbesar itu Park dan rekan-rekannya tampil memukau dan mengejutkan. Di babak penyisihan mereka menghentikan Polandia dan Portugal, sebelum berturut-turut menyingkirkan Italia dan Spanyol di babak 16 besar dan perempatfinal.Park-lah pencetak gol tunggal ke gawang Portugal yang menyebabkan Luis Figo dkk tersisih secara memalukan. Di semifinal Korea dikalahkan Jerman dan di pertandingan terakhirnya ditekuk Turki.Diangkut ke Phillips Stadium pada Desember 2002 oleh Hiddink yang telah menukangi PSV, Park menemui hambatan di musim pertamanya di Eropa. Ia hanya main lima kali sebelum menderita cedera dan absen sampai akhir musim.Tapi di musim berikutnya ia langsung unjuk kebolehan. Park mulai jadi pemain reguler dengan memainkan 28 pertandingan yang menghasilkan delapan gol.Talentanya makin kelihatan, termasuk kepiawaiannya mengolah bola-bola mati menjadi peluang emas. Sumbangsih nyata ia berikan di musim 2004/2005. Sebagai salah satu pemain inti, ia bermain konsisten dalam 28 pertandingan dan membantu timnya meraih gelar ganda: Eredivisie (Liga Belanda) dan Piala Amstel (Piala Liga).Kiprah Park di Liga Champions juga cukup menonjol. PSV berhasil menembus babak semifinal sebelum dihadang AC Milan. Tapi Park terlanjur menyedot perhatian banyak orang, termasuk pemandu bakat Manchester United.Dengan nilai transfer empat juta poundsterling Park akhirnya pindah ke Old Trafford. Ia dikontrak untuk empat musim dengan bayaran dua juta pounds per tahun.Sejarah pun ditorehkan Park karena dialah pemain Korea pertama yang memperkuat tim Premiership dan pemain Asia kedua yang bergabung dengan The Red Devils setelah remaja 18 tahun dari Cina, Dong Fangzhuo. Bedanya, Dong ditaruh di tim cadangan MU, sedangkan Park dipastikan masuk tim utama."Aku akan memperlihatkan kemampuanku buat MU, dan bukan sekadar strategi pemasaran untuk kawasan Asia. Aku ke Inggris bukan untuk urusan bisnis," tekad pemain kelahiran 25 Februari 1981 ini.Mampukah Park mewujudkan omongannya itu? Tentu waktu yang akan menjawabnya -- dan juga kebijakan Fergie, apakah mungkin memberinya banyak kesempatan main atau tidak. Pasalnya, tidaklah muda buat Park membongkar dominasi Paul Scholes dan Roy Keane di lapangan tengah MU. Buktinya, kedua gelandang senior itu tak pernah bisa diganggu Nicky Butt, Kleberson, maupun Erik Djemba Djemba. Apalagi Fergie sesekali juga memasang Alan Smith atau Wayne Rooney agak ke belakang. Kalaupun digeser ke pinggir, Park punya pesaing tidak enteng, yakni Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo, dan Darren Fletcher. Apapun, Park adalah sebuah aset -- sebagaimana sudah pasti dipertimbangkan MU sewaktu merekrutnya. Fans MU pasti menunggu-nunggu tonik macam apa yang bisa disusupkan Park ke aliran darah tubuh tim terkaya dunia itu. Kalau bisa membantu MU kembali menguasai Liga Inggris -- dua musim berturut-turut selalu gagal -- tentu nilainya lebih terasa. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads