Roy Keane
Kontroversi, Pemimpin dan Pengabdi
Sabtu, 19 Nov 2005 10:43 WIB
Jakarta - Menyebut nama Roy Keane pasti akan mengingatkan kita akan tekel-tekel keras, kontroversi dan semangat juang pantang surut. Lebih dari itu Keano adalah pemimpin bagi rekan-rekannya dan pengabdi setia Manchester United. Roy Maurice Keane dilahirkan di Cork, Republik Irlandia, tahun 1971. Di kota kelahirannya itulah Keane memulai karir sepakbolanya bersama klub lokal Rockmount. Tapi kontrak profesional pertamanya adalah bersama klub Cobh Ramblers tahun 1989. Di usia 18 tahun pelatih Nottingham Forest Cobh Ramblers tertarik dengan kemampuannya. Keane pun diboyong ke tanah Inggris dengan nilai kontrak 47 ribu poundsterling (Rp 808,8 juta). Tiga tahun berselang Keane hijrah ke Manchester United. Kali ini harganya sudah melonjak jauh lebih mahal. Kontrak sebesar 3,75 juta poundsterling (Rp 64,5 miliar) ia teken bersama MU. Hebatnya nilai tersebut adalah yang terbesar di Premier League saat itu. Pensiunnya Eric Cantona di akhir musim 1996/97 juga menjadi tonggak sejarah tersendiri bagi Keane. Pasalnya setelah mundurnya Cantona, ban kapten MU dipercayakan Alex Ferguson menempel dilengannya. Sayangnya di musim pertamanya menjabat kapten (1997/1998), Keane justru terhitung jarang memperkuat "Setan Merah". Ia lebih banyak berada dipinggir lapangan lantaran cedera lutut. Sering absennyaKeane ternyata membawa efeknya buruk. Tahun itu MU gagal meraih satu gelar pun. Tapi comeback-nya dimusim 1998-1999 membawa berkah besar bagi MU. Tahun tersebut juga bisa dibilang tahun terbaik bagi MU dan Keane. Tepat di musim kelimanya, Keane mampu meraih treble winners: tropi Liga Inggris, Piala FA dan Liga Champions berhasil disumbangkan Keane ke lemari piala MU. Keane memang tidak turun di partai final menghadapi Bayern Munich karena akumulasi kartu. Tapi perjuangan dan kepemimpinannya di babak semifinal saat melawan Juventus disebut-sebut menjadi kunci keberhasilan The Red Devils melangkah ke final. Musim selanjutnya kesuksesan Keane berlanjut. Ia pun dianugerahi gelar pemain terbaik dari PFA (Professional Footballers Association) dan persatuan wartawan sepakbola. Tahun 2000 juga menjadi pembuktian kesetiaan Keane pada MU. Dengan kontrak yang akan habis di akhir musim, Keane sebenarnya bisa pergi ke Lazio atau Bayern Munich yang menawarinya gaji sebesar 100 ribu poundsterling (Rp 1,7 miliar) per minggu. Tapi ternyata Keane memilih setia bersama MU yang "hanya" membayarnya 52 ribu poundsterling (Rp 894,9 juta) seminggu. Kontroversi juga tak pernah lepas dari pemain yang satu ini. Keane tercatat pernah mengkritik habis-habisan rekan satu timnya yang dianggapnya tidak bermain maksimal saat disingkirkan Bayern di Liga Champions musim 2000. Ia menuduh pemain MU sudah tak punya semangat lagi untuk memenangi Liga Champions pasca juara tahun 1999. Di tahun 2001 kritikan keras gantian datang dari media pada Keane setelah ia melakukan tekel brutal kepada pemain Manchester City Alf-Inge Haaland. Hebohnyalagi dalam otobiografi Keane yang dirilis tahun 2003, ia mengaku sengajaingin mencederai Haaland, yang kemudian tak pernah bisa main lagi. Belakangan Keane kembali menyulut kontroversi. Ia kembali mengkritik rekan-rekannya saat MU menelan kekalahan memalukan 1-4 atas Middlesbrough di Liga Inggris. Kritikan pedasnya yang dilontarkan pada MUTV akhirnya batal mengudara karena dicekal oleh petinggi MU. Keane sebenarnya sempat mengungkapkan rencana pensiunnya di musim panas 2006 mendatang. Namun Jumat (18/11/2005) kemarin dengan tiba-tiba ia malah mengatakan angkat kaki dari Old Trafford. Pertandingan melawan Liverpool di Liga Inggris pada 18 September lalu akan tercatat menjadi penampilan terakhir sang kapten dalam seragam MU. Selamat tinggal, Keane.Foto: Keane secara mengejutkan tinggalkan Old Trafford(AFP/Frank Fife) (erk/)











































