Akhir Hegemoni Fergie?
Senin, 28 Nov 2005 09:04 WIB
Jakarta - Sudah dua musim berturut-turut Manchester United dikangkangi lawan-lawannya. Bukannya bangkit, fans MU kian muram dengan kepergian Roy Keane, Vodafone dan terakhir George Best. Inikah indikasi akhir hegemoni Alex Ferguson?Fegie gagal? Tentu saja tidak atau mungkin belum, meskipun dari lima musim setelah treble winner 1998/1999 MU tiga kali kehilangan gelar Liga Premier (2001/02, 2003/04, 2004/05). Namun demikian kata "gagal" masih terdengar rancu jika dijadikan kesimpulan dari kerja Fergie.Lantas mengapa fans MU terus menerus mengkritisi klub? Kalau memang perlu, apa yang harus berubah di klub dengan julukan The Pride of England itu?Jika harus menjawab saat ini, yang bakal terjadi adalah perdebatan. Seandainya bisa, perubahan pertama yang perlu dilakukan sesuai keinginan mayoritas fans The Red Devils ialah menyingkirkan "tuan baru" Malcolm Glazer. Bukan tidak mungkin, namun hal ini butuh keajaiban layaknya "David melawan Goliath".Tak bisa menyentuh Glazer, Fergie jadi sasaran. Bukan tanpa alasan pelatih yang sudah hampir dua dekade menukangi MU ini menjadi sasaran. Dalam tiga musim terakhir Fergie cukup sering melakukan keputusan yang "kurang memihak" fans. Tetapi karena 8 gelar Liga Inggris, 3 Piala FA, 2 Piala Liga dan satu gelar Liga Champions serta Piala Winner, anggota kehormatan keluarga Kerajaan Inggris itu tetap bertahan di Old Trafford.Tanda tanya besar yang pernah muncul meragukan keputusan Fergie di antaranya ialah penjualan David Beckham ke Real Madrid tahun 2003. Meski dengan alasan ingin tantangan baru, Beckham sebelumnya jelas-jelas bermasalah dengan Fergie buntut insiden "sepatu terbang" di ruang ganti. Sepeninggal Beckham, MU kehilangan gelar Liga Premier, namun sedikit terhibur dengan Piala FA.Keahlian pelatih asal Skotlandia itu dalam menilai bakat pemain juga mulai dipertanyakan karena tak kunjung menemukan kiper handal pengganti Peter Schmichel. Lemahnya barisan pertahanan pun semakin dikritisi fans yang menyesali kepergiaan Jaap Stamp. Sementara beberapa pemain yang datang dinilai sia-sia, di antaranya Tim Howard, Juan Sebastian Veron, Lauren Blanc dan Diego Forlan. Nama terakhir belakangan malah sukses di Villareal.Wacana mengganti Fergie sudah bukan barang baru. Namun demikian tidak ada satu pun kandidat yang secara meyakinkan lebih unggul. Bahkan saat pelatih berusia 64 tahun itu berencana mundur, manajemen MU malah memperpanjang kontraknya awal tahun 2004 sebesar US$25 juta atau seperempat miliar rupiah, yang saat itu menjadikannya sebagai pelatih termahal di Eropa.Batal pensiun, Fergie malah menegaskan dirinya akan membangun MU yang baru. Namun demikian janji tersebut berproses sangat lambat. Beberapa nama baru yang muncul seperti Cristiano Ronaldo, Gabriel Heinze, Wayne Rooney, Park Ji-Sung dan Darren Fletcher, penampilannya masih belum stabil.Memasuki akhir tahun 2005 ini, optimisme suporter kian surut. Bagaimana tidak, Roy Keane yang 12 tahun menghuni Old Trafford dan selalu terpercaya mengawal "Setan Merah", tiba-tiba memutuskan pergi. Padahal kontrak gelandang 34 tahun itu akan berakhir Juni 2006. Mengapa Keane pergi? Tidak ada seorang pun yang tahu pasti. Yang jelas, tidak terjawabnya kerut kening suporter justru berbuntut tak enak pada Fergie. Sang pelatih disalahkan karena "melupakan" jasa Keane.Namun sesungguhnya di atas semua kritik tersebut, ukuran terpenting bagi suporter ialah prestasi. Siapapun yang keluar masuk Old Trafford bukan masalah asal tropi juara tidak berpindah tangan. Syarat inilah yang terlihat sulit untuk dicapai.Di liga domestik MU sudah dua musim berturur-turut jadi pecundang dari dua rival utamanya. Dua musim lalu Arsenal melakukannya dengan sangat telak, menjadi juara tanpa terkalahkan. Semusim kemudian giliran Chelsea di bawah dinasti Roman Abramovich-Jose Mourinho juga nyaris tak tersentuh.Kemungkinan bangkit musim ini bukan tidak ada, buktinya Ruud Van Nistelrooy cs bisa mengalahkan Chelsea secara langsung. Tapi kenyataannya di klasemen sementara MU tertinggal 10 poin. Sedangkan di Liga Champions MU harus menjalani partai "hidup-mati" melawan Benfica. Jika kalah di Portugal tidak hanya berakibat gagal ke babak selanjutnya, tetapi bisa tak masuk Piala UEFA.Prestasi yang kurang menggigit, perlawanan suporter terhadap manajemen klub khususnya Glazer, serta kepergian Keane, bukanlah akhir dari cerita buruk soal MU. Pekan lalu sponsor utama Vodafone juga mengumumkan dukungan dananya untuk MU akan berakhir. Padahal perusahaan raksasa telekomunikasi itu baru empat tahun lalu menyingkirkan satu-satunya sponsor utama yang pernah lama menggandeng MU, Sharp.Belum sempat suporter mengerti pengaruh dari pemutusan kerja sama ini, awan gelap di atas Old Trafford semakin tebal dengan berita duka meninggalnya salah satu pemain legenda MU, George Best.Hanya ada satu cara untuk mengobati kekecewaan fans akibat guncangan bertubi-tubi, yakni berikan kemenangan dan gelar. Obat ini harus ditenggak secepatnya. Jika gagal, hegemoni seorang Fergie jadi taruhan. Karena tanpa keterpurukan pun, Fergie sudah pantas pensiun.Foto: Alex Ferguson masih jadi "raja" di Old Trafford (AFP/Gerry Penny). (lom/)











































