Jelang Arsenal vs MU
Tanpa Vieira dan Keane, Aman?
Selasa, 03 Jan 2006 11:43 WIB
Jakarta - (Mantan) kapten mereka, yang dikenal punya pengaruh besar pada rekan-rekan setimnya, sudah pergi. Akankah duel Arsenal versus Manchester United kali ini berlangsung 'aman'?Tanpa bermaksud menyebut Patrick Vieira dan Roy Keane "biang kerok", namun tidak bisa dipungkiri bahwa kedua gelandang ini punya karakter kuat sebagai pemimpin bagi teman-temannya di lapangan, yang kebetulan sama-sama punya temperamen tinggi.Tengok Vieira. Ia adalah salah satu pemain Arsenal yang paling sering mengutip kartu merah. Selama sembilan musim berada di Highbury ia tercatat sembilan kali diusir dari lapangan sebelum waktunya.Di musim 2000-2001 ia bahkan pernah diganjar kartu merah di dua pertandingan berturut-turut (!). Temperamennya sedikit terkontrol sejak ban kapten Tony Adams diserahkan kepadanya di tahun 2002.Dibanding Vieira -- musim ini pindah ke Juventus -- Roy Keane punya trek rekor negatif lebih "wah", koleksi kartunya pun lebih banyak. Sepanjang karirnya ia pernah diacungkan kartu merah sebanyak 13 kali oleh wasit dan di-booking 95 kali!Ia adalah tipikal petarung yang siap mati di lapangan. Hampir dipastikan ia orang pertama yang membela apabila ada rekannya yang dirugikan wasit atau pemain lawan. Tekel-tekelnya kuat, tapi sering pula berbahaya. Orang terperangah pada pengakuan Keane soal aksi brutalnya terhadap pemain Norwegia Alf Inge Haaland, yang kemudian membuat mantan gelandang Manchester City itu tak bisa lagi turun ke lapangan.Dengan karakter di atas, ditambah tradisi sengit duel Arsenal vs MU, tak heran jika Vieira dan Keane sering jadi bahan cerita seru di sana. Orang tak lupa pada insiden September 2003, ketika Vieira dikadalin Ruud van Nistelrooy; atau Keane yang menuding Vieira mengitimidasi Gary Neville pada laga 1 Februari 2005 di Highbury, yang membuat mereka beradu mulut di tunnel.Vieira lalu menyindir nasionalisme Keane, yang meninggalkan timnas Republik Irlandia menjelang Piala Dunia 2002. Keane balik menyerang Vieira karena bisa-bisanya membicarakan nasionalisme sedangkan ia tidak mau membela tanah kelahirannya, Senegal, dan malah bernaung di bawah bendera Prancis.Aksi saling sindir itu sempat membuat cemas sebagian kalangan, bahwa akan terjadi duel tidak sehat di final Piala FA 2005. Untungnya tidak. Pertandingan berjalan relatif bersih, Arsenal menang lewat adu penalti. Itulah kali terakhir Vieira bertemu langsung dengan Keane. Keduanya kini telah pindah ke klub lain: Vieira ke Juventus sejak awal musim, Keane bergabung ke Celtic mulai akhir tahun ini.So, akan lancar-lancar sajakah pertarungan Rabu (4/1/2006) dinihari nanti? Semestinya ya karena mereka adalah para profesional. Tapi siapa jamin tidak ada percik-percik 'api kebencian' di sana? Faktor pelatih, misalnya, Ferguson dan Arsene Wenger sejauh ini belum pernah menyatakan "berbaikan" -- tidak seperti Ferguson dengan Jose Mourinho, yang konflik mereka di Portugal berakhir setelah Mourinho pindah ke Chelsea."Perangai kami sempurna. Kami telah menunjukkan itu dengan sangat baik. Dalam pertandingan seperti ini disiplin amat dibutuhkan. Saya tak peduli bagaimana Arsenal memandang kelakuan mereka, semua orang punya pendapat masing-masing. Saya hanya peduli pada tim saya sendiri," tutur Fergie.Kapten baru masing-masing tim, Thierry Henry (Arsenal) dan Gary Neville (MU), tergolong pemain "bersih". Dalam karirnya mereka nyaris tak pernah terlibat kontroversi seputar kedisiplinan.Tapi kalau permusuhan sudah (dikondisikan) mendarah-daging dalam tubuh sebuah kesatuan, yang tidak melibatkan satu-dua orang saja melainkan sampai 24 orang (11 pemain plus pelatih), riak-riak itu selalu mungkin terjadi. Syukur-syukur tidak.Foto: Gary Neville (kiri) kini memimpin Manchester United, Thierry Henry mengomandoi Arsenal. Duel berlangsung lebih 'bersih'? (Ist-diolah). (a2s/)











































