Liverpool Kalah 2-7, Klopp: Torehan Sejarah yang Keliru

Rifqi Ardita Widianto - Sepakbola
Senin, 05 Okt 2020 17:52 WIB
Liverpools manager Jurgen Klopp shouts out from the touchline during the English Premier League soccer match between Aston Villa and Liverpool at the Villa Park stadium in Birmingham, England, Sunday, Oct. 4, 2020. (AP Photo/Rui Vieira, Pool)
Juergen Klopp menyaksikan Liverpool dihajar Aston Villa 2-7. (Foto: AP/Rui Vieira)
Jakarta -

Liverpool diakui melakukan terlalu banyak kesalahan dalam kekalahan 2-7 dari Aston Villa. Juergen Klopp menyebut ini jadi torehan sejarah yang salah.

Liverpool dilibas Aston Villa di Villa Park, Senin (5/10/2020) dini hari WIB pada lanjutan Liga Inggris. Meski mendominasi, sang juara bertahan tak kuasa menahan tusukan-tusukan tuan rumah dan rentan di situasi bola mati.

Mohamed Salah dkk mencatatkan penguasaan bola hingga 70%, melepaskan 14 tembakan dengan delapan mengarah ke gawang. Sedang tuan rumah yang bermain efisien melepaskan 18 percobaan, 11 di antaranya on target.

Cuplikan pertandingan tersebut bisa disaksikan di Mola TV melalui link berikut ini.

Manajer Liverpool Juergen Klopp menyadari timnya bermain buruk di laga ini. Bukan cuma gagal memaksimalkan peluang-peluang yang hadir, melainkan juga kehilangan bola di area-area yang sangat berisiko dan tak menutup ruang tembak dengan baik.

Kebobolan tujuh gol di satu laga ini jadi pengalaman pertama Liverpool di seluruh ajang sejak April 1963 silam, ketika kalah 2-7 dari Tottenham Hotspur. Mereka juga jadi juara bertahan pertama yang kemasukan tujuh gol di partai liga sejak Arsenal pada September 1953.

"Tampaknya kami kehilangan plot setelah skor 1-0. Siapa sih yang ingin kalah 7-2? Bertahun-tahun lalu kami bilang ke diri sendiri bahwa kami ingin menciptakan sejarah. Hasil itu adalah sejarah, tapi jelas jenis yang salah," ujarnya dikutip BBC.

"Kami punya peluang-peluang besar yang mana tidak kami maksimalkan, tapi ketika Anda kemasukan tujuh gol, saya tak yakin Anda bisa bilang skornya bisa saja 7-7. Kami terlalu banyak melakukan kesalahan dan itu kesalahan-kesalahan besar."

"Dimulai dari gol pertama dan di seputar gol-gol yang tercipta, kami bikin kesalahan-kesalahan besar. Kami kehilangan bola di area yang keliru dan tak melindungi pertahanan dengan layak. Tampaknya kami kehilangan plot setelah 1-0. Ini bukan alasan."

"Normalnya, Anda bisa tertinggal 1-0 dan melakukan hal-hal yang ingin Anda lakukan. Kami menciptakan peluang tapi tidak melindungi diri sendiri dengan pantas, sehingga setiap bola kami yang hilang menjadi serangan balik yang masif."

"Itulah sebabnya kami kebobolan dan tiga gol lawan adalah tendangan yang terdefleksi. Tak beruntung memang dan itu bukan kebetulan, sebab itu berarti bloknya tidak layak. Tidak ada yang bisa disalahkan kecuali saya dan kami," sambung pria Jerman tersebut.

(raw/krs)