Nonton MU di Old Trafford Bersama detikcom (3)
Kamis, 26 Jan 2006 09:54 WIB
London - Kedatangan hari Minggu (22/1/2006) kami sambut dengan antusias. Tak lama lagi kami akan pergi menonton Manchester United vs Liverpool di teater impian, Old Trafford.Pukul 08.36. Itu yang tercantum pada tiket kereta yang akan kami tumpangi dari London menuju Manchester. Daripada tak kebagian tempat duduk, kami berangkat satu jam lebih awal menuju stasiun, meskipun jaraknya dari hotel peserta menginap hanya sekitar 10 menit.Oh ya, Ibu Tan Siu Tjin sejak semalam memutuskan tidak ikut ke Old Trafford karena sudah merasa lelah dan mengaku kakinya terkilir, takut tak kuat jika harus berdesak-desakan di kereta dan stadion. Mengingat beliau yang telah berumur, kami maklum.Pukul 08.15 kereta dibuka. Penumpang langsung berhamburan masuk, persis seperti lebaran di Indonesia. Seorang penumpang sampai heran dan mengatakan mengapa menjadi begitu ribut, lupa bahwa hari itu ada pertandingan bola. Kami beruntung kebagian tempat duduk.Sampai di Manchester sekitar pukul 12.00 lebih sedikit. Pub-pub atau tempat-tempat minum sudah dipenuhi pendukung "Setan Merah". Kami sempatkan diri mengisi perut, sedangkan mereka umumnya minum-minum. Di sana-sini orang memakai seragam MU. Sekali dua kali kami melihat rombongan penonton dari Liverpool. Kadang-kadang mereka saling berteriak dan saling mengejek, atau menyanyikan lagu masing-masing klub.Sampai di kompleks Old Trafford orang sudah menyemut. Saya masih sempat menyaksikan kehadiran rombongan penonton Liverpool yang menggunakan 30-an bus dengan kawalan ketat polisi.Saling ejek tak terhindarkan lagi. Meski sebenarnya bermusuhan, tapi ejekan mereka kalau diperhatikan penuh juga dengan canda dan lelucon, yang kalau Anda mengerti konteksnya akan bikin Anda terpingkal-pingkal.Masuk stadion megah itu, tempat duduk kami di sebelah kanan atas belakang gawang. Gemuruh teriakan sahut menyahut "United... United" seperti menggetarkan dada kami dan membuat merinding. Bahkan Hernando Rondonowu, salah seorang peserta yang selama ini pendiam, kelihatan mulai gelisah dan seperti ingin ikut berteriak. Saya hanya tersenyum.Suami saya yang sudah hampir 30 tahun mendukung MU sudah lupa diri. Ia mengajari anak saya untuk ikut bernyanyi dan meneriakkan United berulang-ulang. Padahal pertandingan belum pula dimulai.Saat pertandinganMenonton di televisi selalu steril, lebih cermat, lebih bisa mengambil jarak dan mungkin cenderung terlalu analitis. Tetapi menonton langsung adalah mendaki dari satu luapan emosi ke luapan emosi yang lain. Seperti naik roller coaster yang tak ada habisnya, berharap lalu jatuh, khawatir lalu lega, semuanya saling bertindih dalam hitungan waktu yang pendek.Juga tidak seperti televisi yang claustrophobic, Anda bisa melihat gambar keseluruhan dari pergerakan pemain. Memang tidak ada rincian yang tegas karena semuanya seperti gambar besar yang kabur tetapi dengan detak jantung dan kilatan peristiwa yang seirama. Apalagi ditimpali dengan nyanyian dan teriakan dukungan untuk klub masing-masing, wuah, susah menggambarkannya.Menonton langsung pertandingan partai sebesar MU vs Liverpool Anda akan seperti ikut merasakan angin setiap liukan giringan bola, setiap tekel, setiap sepakan bola. Dan ketika gol tercipta terutama untuk klub yang Anda dukung, dada seperti membuncah dan setiap pori-pori kulit seperti terbuka.Menyerap atmosfer Old Trafford ketika MU mencetak gol adalah sebuah pengalaman yang saya rekomendasikan buat Anda semua. Ada ekstase tersendiri. "Lebih nikmat ketimbang seks," kata seorang fans ketika Rio Ferdinand mencetak gol satu-satunya itu. Ah, saya yakin hal yang sama dikatakan pendukung Liverpool kalau itu terjadi di Anfield.Setelah menikmati "mimpi" di Theatre of the Dream, keluari dari Old Trafford menjadi perjuangan tersendiri. Puluhan ribu orang ingin naik trem yang sama untuk kembali ke asal dan rumah mereka masing-masing. Saling ejek antarsuporter masih berlangsung, yang belum ingin pulang balik ke pub dan minum-minum lagi.Lagi-lagi beruntung, kami kebagian duduk. Hernando duduk di kursi yang saling berhadapan untuk empat penumpang. Dan yang duduk di tempat itu adalah tiga orang pendukung MU yang tinggi besar dan ketiganya... mabuk.Sepanjang perjalanan mereka bercanda, bernyanyi keras-keras dan membuat lelucon-lelucon tentang pendukung Liverpool. Sebetulnya bukan hanya mereka bertiga. Ada banyak lagi di gerbong kami yang juga habis menonton pertandingan juga mabuk dan bersahut-sahutan bernyanyi dan bercanda.Kereta tiba di London pukul 23.20 dan rombongan langsung masuk hotel, bersiap-siap untuk pulang ke Indonesia esok harinya. Saya, yang sudah beberapa kali nonton MU di Old Trafford, selalu menjadikan kesempatanitu sebagai pengalaman yang luar biasa. Semoga "tetamu" detikcom juga merasakan demikian.****) Tulisan ini adalah bagian terakhir dari catatan perjalanan wartawan detikcom di London, Liza Arifin, saat memandu pemenang periode pertama kuis English Premier League persembahan situs kesayangan Anda ini bekerja sama dengan Indosat dan Manchester United Cafe Jakarta, yang hadiahnya adalah menonton pertandingan MU versus Liverpool langsung di stadion Old Trafford akhir pekan lalu. (Foto: Bergaya sejenak di depan stadion Old Trafford) (a2s/)











































