Jadi Saksi MU vs Arsenal di Old Trafford (2)
Sabtu, 15 Apr 2006 08:37 WIB
London - Pertandingan pun bergulir dan berlangsung dengan cepat, menarik dan penuh insiden. Saya bisa melihat wajah peserta yang tampak sangat puas menonton langsung aksi pemain-pemain dunia ini seperti Wayne Rooney, Ruud van Nistelrooy, Gary Neville, Thierry Henry, Robert Pires dan lain-lain."Sialan, nggak ada tv. Nggak ada tayangan ulang, nih!," umpat mereka setiap kali kehilangan sebuah momen cepat yang tak sempat dilihat. "Tinggi-tinggi dan langsing-langsing mereka ini ya.""Gila, cepet banget mainnya.""Sakit kuning kali kalau pemain Indoensia disuruh main kayak mereka.""Keras, tapi bersih mainnya."Ketika MU mencetak gol pertama lewat kaki Rooney, stadion seperti mau runtuh oleh kegembiraan, ekstase tiada tara. Begitupun dengan gol kedua yang diukur Park Ji Sung, pemain asal Korea. Siapapun yang hadir di sana -- kecuali fans Arsenal-- tentu akan membawa perasaan suka cita tak terhingga dari pengalaman fantastis itu.Ketika berkumpul kembali di depan mega store usai pertandingan, saya agak heran karena suami saya ikut tersenyum-senyum. Rupanya ia juga menonton dan bahkan membuat kami iri karena melakukannya bersama-sama hard core suporter MU -- untuk tidak menyebut kelompok ini hooligan-nya MU.Diceritakannya di perjalanan pulang ke London, setelah berpisah dengan kami ia memutuskan untuk menonton di pub The Red Devssl di ujung jalan menuju stadion, tempat pendukung MU berkumpul.Di sana ia bertemu seorang pemegang tiket musiman yang mencari teman untuk menonton. "Kalau kamu penggemar MU, cukup bayar seharga tiket resmi," katanya.Tak usah ditanya dua kali, suami saya langsung menyabet tawaran itu dan langsung bergabung dengan sesama penggemar "asli" MU. Ia terkejut ketika duduk di bagian yang paling dekat dengan pendukung Arsenal. Dan semua penonton MU di situ sudah saling kenal layaknya keluarga. Bahkan suami saya diperkenalkan kepada semua orang sebagai penggemar dari Indonesia."Di mana Indonesia itu?" tanya mereka. Suami saya hanya tersenyum. "Dasar!" Semua makian, semua nyanyian ejekan, tantangan, semua dilontarkan kepada pendukung Arsenal. Suami saya belajar begitu banyak nyanyian ejekan yang bahkan di kereta ia masih saja menyanyikannya.Apalagi ketika Park Ji Sung mencetak gol. Begitu banyak orang memeluk suami saya, menumpuk-numpuk di atasnya. "Park orang Korea, saya orang Indonesia," teriak suami saya. "Ah sama saja, Korea, Indonesia, sipit semua. Oriental semua," jawab mereka tak peduli.Kemudian mereka bernyanyi sambil menunjuk suami saya. "He's one of us, He's one us," berulang-ulang. Mendengar cerita ini, bagaimana mungkin kami tidak merasa iri.Setelah melewati agenda utama dalam "kapasitas" sebagai fans sepakbola, keesokan harinya para peserta menghabiskan waktu hampir seharian untuk menjadi "turis". Kami pun berkeliling kota London untuk menikmati waktu dan tempat-tempat menarik, yang akan sayang jika dilewatkan begitu saja jika sudah berada di ibukota Inggris ini.Anda ingin punya pengalaman semacam ini juga? Ikuti terus setiap program kuis yang diadakan detikcom.===*) Tulisan ini adalah bagian kedua dari catatan perjalanan wartawan detikcom di London, Liza Arifin, saat memandu pemenang periode kedua kuis English Premier League persembahan situs kesayangan Anda ini bekerja sama dengan Indosat dan Manchester United Cafe Jakarta, yang hadiahnya adalah menonton pertandingan MU versus Arsenal langsung di stadion Old Trafford akhir pekan lalu.Foto: Berada di tengah ribuan suporter Manchester United di "Theatre of the Dream". (a2s/)











































