Antonio Conte Dulu Tolak Tottenham, kok Sekarang Mau?

Adhi Prasetya - Sepakbola
Selasa, 02 Nov 2021 17:00 WIB
(FILES) In this file photo taken on March 8, 2021 Inter Milans Italian coach Antonio Conte shouts insctructions from the touch line during the Italian Serie A football match Inter Milan vs Atalanta, at the San Siro stadium in Milan. - Manchester United loosing 0-5 against Liverpool in front of their home crowd on October 24, 2021 has left their Norwegian coach Ole Gunnar Solskjaer, who extended his contract last July for another three years until 2024, in the hot seat. The names of four well-known coaches are already circulating to succeed him, including Antonio Conte, 52, the Italian coach is free since he left Inter Milan in May 2021, believing that he no longer had sufficient means at his disposal to make the team grow due to the budgetary restrictions imposed by his owner. (Photo by Miguel MEDINA / AFP)
Conte dikabarkan selangkah lagi akan menjadi pelatih Tottenham. Foto: AFP/MIGUEL MEDINA
Jakarta -

Antonio Conte pernah menolak tawaran melatih Tottenham Hotspur di musim panas lalu. Namun ia kini menjadi kandidat kuat untuk menggantikan Nuno Espirito Santo yang baru saja dipecat. Apa yang mungkin mengubah sikapnya?

Musim panas lalu, Conte yang baru memutuskan kerja sama dengan Inter Milan didekati oleh Tottenham, yang butuh pelatih baru setelah memecat Jose Mourinho. Kala itu, Ryan Mason hanya berstatus caretaker. Namun kesepakatan batal terjadi. Conte memilih menganggur dari lapangan hijau, bahkan mengisi waktu menjadi pundit.

Kabarnya, saat itu Conte tak berminat karena proyek yang diajukan Tottenham dirasa tak meyakinkan. Conte diminta memaksimalkan pemain muda alih-alih diberi budget transfer yang besar untuk memperkuat tim. Selain itu, ada juga masalah gaji dan jumlah staf yang boleh dibawa.

Namun kini nama Conte muncul lagi dalam bursa transfer pelatih Tottenham, bahkan ia dikabarkan sudah sepakat dengan kontrak berdurasi 18 bulan. Ia juga disebut akan diberi kesempatan membangun tim, dimulai dari bursa transfer Januari mendatang. Apa yang mengubah sikapnya?

Dirangkum dari sejumlah media ternama seperti BBC, New York Times, ESPN, The Athletic, hingga The Guardian, ini beberapa faktor yang mungkin jadi pertimbangan:

1. Kehadiran Fabio Paratici

Conte dan Paratici pernah bekerja sama selama tiga musim di Juventus, di mana Bianconeri saat itu selalu berhasil merebut scudetto di akhir musim. Hubungan ini yang diyakini berperan besar dalam kesediaan Conte menuju Tottenham.

Paratici berhasil meyakinkan Conte bahwa proyek Tottenham sama menariknya seperti yang ia lakukan di Juventus, Chelsea, ataupun Inter Milan dulu. Selain itu, faktor kedekatan dengan Paratici diyakini akan memudahkan Conte untuk meminta ini itu kepada manajemen, khususnya di bursa transfer nanti.

2. Bayaran yang sesuai

Salah satu alasan Conte menolak Tottenham di musim panas lalu adalah gaji yang di bawah harapan. Saat itu, Conte meminta 12 juta Pound, sementara Tottenham hanya mau membayar 9-10 juta Pound saja.

Bisa jadi, sekarang Tottenham melunak. Dengan catatan lima kali menang dan lima kali kalah di Liga Inggris sejauh ini, tak mudah merekrut pelatih jempolan yang mau membereskan tim. Tawaran gaji yang 'wah' mungkin bisa membuat Conte pun berpikir ulang.


3. 'Suramnya' Tottenham justru menarik minat Conte

Italia asuhan Conte di Euro 2016 disebut sebagai Gli Azzurri terburuk dalam setengah abad terakhir. Namun mereka mampu menaklukkan Belgia dan Spanyol, serta hanya kalah adu penalti dari Jerman. Situasi itu membuka mata publik, bahwa Conte bisa membangun tim kuat meski diisi 'para pemain yang biasa-biasa saja'.

Bisa jadi hal ini yang dilihat Tottenham. Urusan memenangi gelar nanti dulu, namun yang penting adalah memaksimalkan skuad yang ada untuk meraih kemenangan, sambil menanti bursa transfer dibuka. Conte diyakini sebagai sosok yang tepat.

4. Tottenham satu-satunya pilihan logis

Barcelona sedang cekak untuk menyewa jasa Conte. Manchester United tampak belum akan memecat Ole Gunnar Solskjaer dalam waktu dekat. Paris Saint-Germain baik-baik saja dengan Mauricio Pochettino, dan kesepakatan dengan Inter sewaktu hengkang membuatnya tak bisa melatih di Italia sementara waktu.

Dengan kondisi yang ada saat ini, Conte memang tak punya banyak pilihan jika ingin kembali ke kursi manajerial. Tottenham satu-satunya 'klub besar dan berduit' yang bisa merekrutnya. Jangan lupa, masih banyak pelatih top di luar sana yang menganggur.

(adp/bay)