Naik-Turun Mason Mount

Mohammad Resha Pratama - Sepakbola
Selasa, 18 Jan 2022 14:20 WIB
LONDON, ENGLAND - DECEMBER 29: Mason Mount of Chelsea reacts as Danny Welbeck of Brighton & Hove Albion (not pictured) scores their sides first goal uring the Premier League match between Chelsea and Brighton & Hove Albion at Stamford Bridge on December 29, 2021 in London, England. (Photo by Justin Setterfield/Getty Images)
Mason Mount lagi naik-turun penampilannya di Chelsea (Getty Images/Justin Setterfield)
London -

Mason Mount marah besar saat dicadangkan di laga Manchester City vs Chelsea. Manajer Thomas Tuchel pun memahami dan yakin Mount bakal oke lagi.

Mount cuma jadi penonton sepanjang 80 menit di Etihad Stadium akhir pekan lalu. Chelsea akhirnya kalah 0-1 dan Mount hanya bermain sekitar sembilan menit.

Pada laga itu Tuchel memilih Hakim Ziyech, Christian Pulisic, dan Romelu Lukaku sebagai trio lini serang. Sayang, keputusan Tuchel itu tak berujung manis karena ketiganya juga gagal membongkar pertahanan City.

Sepanjang laga, Mount beberapa kali kena sorot kamera dan terlihat raut mukanya tidak senang dengan keputusan Tuchel itu. Mount boleh jadi merasa dia pantas menjadi starter untuk membantu lini serang Chelsea.

Sayang, Tuchel adalah pemegang keputusan dan Mount mau tak mau harus legowo menerimanya. Kalaupun Mount tidak suka dicadangkan, Tuchel memakluminya.

"Ya, saya lihat kok bagaimana Mount marah betul dan itu wajar kok," ujar Tuchel seperti dikutip Guardian.

Mason Mount adalah salah satu top scorer Chelsea dengan tujuh gol di seluruh kompetisi, dia cuma kalah dari Jorginho (9 gol) dan Romelu Lukaku (8 gol). Maka wajar jika Mount ingin selalu bermain dan mencetak gol untuk membawa Chelsea menang.

Tapi, ada kalanya memang Mason Mount tidak cocok dengan taktik yang dipakai Tuchel, sehingga harus dicadangkan. Apalagi musim ini, Mount beberapa kali absen karena cedera sehingga performanya naik-turun.

Mount sejak pertengahan Desember lalu cuma bikin satu assist di Liga Inggris, setelah sempat mencatatkan empat gol dan dua assist.

"Saya lihat matanya, saya tahu betapa marahnya dia. Dia ingin bermain di laga-laga seperti itu, tapi kami memang memilih pemain yang cepat. Kami pikir kami bisa mendobrak pertahanan City dengan Hakim di sisi kiri dan Christian di sisi kanan, karena dia kerap masuk ke kotak penalti," sambungnya.

"Saya rasa Mason bukan pemain yang tidak tersentuh, dan itu wajar saja. Jadi kami membuat keputusan itu dan bisa saja terjadi setiap saat. Dia memang tidak senang dengan itu, tapi nanti juga reda sendiri karena semuanya cinta Mason termasuk saya," tutup Thomas Tuchel.

(mrp/adp)