Curhat Eks Pemain Kulit Hitam Inggris: Dihalang-halangi Jadi Pelatih

Yanu Arifin - Sepakbola
Selasa, 29 Mar 2022 10:50 WIB
LARNACA, CYPRUS - MARCH 11: Englands Lianne Sanderson celebrates after scoring a goal at the Cyprus Cup final match between England and Canada at GSZ stadium on March 11, 2015 in Larnaca, Cyprus. (Photo by Getty Images)
Foto: Getty Images/Getty Images
London -

Mantan pesepakbola Inggris, Lianne Sanderson, mengaku sulit mendapat pekerjaan bidang kepelatihan. Ia menuding ada sedikit isu rasisme di baliknya.

Sanderson, yang punya catatan 50 penampilan untuk Timnas Inggris, mengaku sulit melanjutkan karier di bidang kepelatihan. Ia merasa dipersulit untuk gabung ke jajaran manajemen.

Situasi itu seturut dengan minimnya keterlibatan orang kulit hitam di jajaran manajemen. Menurut laporan Szymanski, hanya 1,6 persen posisi eksekutif, kepemimpinan, dan kepemilikan klub dimiliki orang kulit hitam.

Padahal, ada 14 persen orang kulit hitam yang memegang lisensi pelatih UEFA Pro di bawah FA. Kemudian, ada 43 persen pemain Liga Inggris adalah pemain kulit hitam.

Sumber daya yang banyak itu dirasa ganjil jika sulit mendapat pekerjaan lanjutan di jajaran manajemen. Sanderson menuding ada isu rasisme yang melatarbelakanginya.

"Saya pikir Anda tidak akan melihat orang seperti saya berbicara tentang sepakbola pria pada 15 atau 20 tahun yang lalu. Dan dengan platform yang saya miliki sekarang [menunjukkan] bahwa waktu sedang berubah," kata Sanderson kepada Sky News.

"Tetapi ketika berbicara tentang manajer, Paul Ince telah menjadi bagian manajemen, Chris Hughton telah menjadi manajemen, pasti ada masalah di suatu tempat karena kami, entah bagaimana, diblokir."

"Ada cukup banyak orang kulit hitam di dunia. Ada cukup banyak etnis minoritas di dunia, dan orang-orang Asia, tetapi tidak ada cukup pesepakbola Asia yang bisa mencapai tempat yang mereka butuhkan. Jadi ada yang tidak beres, karena kami diblokir dari suatu tempat," katanya.

Lebih lanjut, Sanderson merasa perlakukan diskriminasi masih menjadi sumber masalah. Hal-hal semacam itu menurutnya masih terjadi di bawah alam sadar kebanyakan petinggi sepakbola.

"Saya pikir banyak dari itu adalah rasisme bawah sadar, tidak memihak yang mengakar pada intinya, dan orang-orang bahkan tidak menyadarinya. Kami bahkan tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Kami tidak meminta untuk diberi kesempatan berdasarkan warna kulit, tapi berilah kami kesempatan untuk bekerja," tegasnya.

"Itulah yang saya pikir terlihat sekarang, dan orang-orang berkata, 'Ada lebih banyak orang seperti Anda di TV, Anda hanya isyarat. Sudah seperti ini selama ratusan tahun di mana orang-orang seperti saya belum pernah muncul di TV, jadi jelas ada masalah," terangnya.

(yna/bay)