ADVERTISEMENT

Cerita Son Jadi Korban Rasisme di Jerman

Mohammad Resha Pratama - Sepakbola
Selasa, 05 Jul 2022 19:00 WIB
Hamburgs Heung-Min Son celebrates his 2-0 goal during the German Bundesliga soccer match between 1. FSV Mainz 05 and Hamburger SV at Coface Arena in Mainz, Germany, 13 April 2013. Photo: FREDRIK VON ERICHSEN (ATTENTION: EMBARGO CONDITIONS! The DFL permits the further utilisation of up to 15 pictures only (no sequntial pictures or video-similar series of pictures allowed) via the internet and online media during the match (including halftime), taken from inside the stadium and/or prior to the start of the match. The DFL permits the unrestricted transmission of digitised recordings during the match exclusively for internal editorial processing only (e.g. via picture picture databases) | usage worldwide   (Photo by Fredrik von Erichsen/picture alliance via Getty Images)
Son Heung-min jadi korban rasialisme di Jerman (picture alliance via Getty Image/picture alliance)
Seoul -

Son Heung-min pernah punya pengalaman tak mengenakkan saat pertama kali main di Eropa. Dia pernah jadi korban rasisme.

Son tidak pernah berkarier profesional di Korea Selatan karena dia diangkut oleh Hamburg pada 2008, saat masih berusia 16 tahun. Saat itu Son belajar dulu di akademi sebelum tampil di tim utama pada 2010.

Bergabung dengan klub sebesar Hamburg merupakan kebanggaan bagi Son yang merupakan orang Asia. Memang tidak banyak pemain asal Benua Kuning yang mampu tampil di kompetisi Eropa.

Meski demikian, di balik kebanggaan Son terdapat cerita getir ketika dia jadi korban pelecahan berbau rasial di Jerman. Maklum, Son saat itu masih berusia 18 tahun dan pendatang baru pula, sehingga jadi sasaran cemooh orang-orang asli Jerman.

"Saya pindah ke Jerman saat masi muda dan melalui banyak kesulitan, momen-momen yang tidak terbayangkan sebelumnya," ujar Son seperti dikutip AFP.

"Saya mendapat banyak pelecehan berbau rasial. Dan selama saya melalui kesulitan itu, saya selalu berpikir untuk membalas mereka suatu saat," sambungnya.

Setelah memperkuat Hamburg dan Bayer Leverkusen, Son pindah ke Tottenham Hotspur pada 2015. Nama Son lantas jadi besar hingga saat ini dan jadi salah satu penyerang mematikan di Inggris dengan 131 gol.

Son pun berhasil membalaskan dendam kepada publik Jerman saat Korea Selatan mengalahkan negara itu 2-0 di Piala Dunia 2018. Son mencetak gol kedua timnya dan Jerman selaku juara bertahan keok di fase grup.

"Ketika melihat orang-orang Jerman menangis, saya merasa mampu membalaskan dendam dengan kemampuan saya sekarang," tutup Son Heung-min.

(mrp/ran)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT