Ketika Mourinho-Benitez Salaman
Senin, 18 Sep 2006 11:05 WIB
London - Yang ditunggu-tunggu datang juga. Setelah 12 kali bertemu, Jose Mourinho dan Rafael Benitez akhirnya bersalaman. "Ketidakdewasaan kita cukup sampai di sini," tekad mereka.Ya, manajer dua klub elit Inggris itu telah mencairkan sedikit ketegangan rivalitas mereka, yang begitu terasa dan terlihat sejak dua tahun lalu, seiring dengan sengitnya perseteruan Chelsea dan Liverpool di atas lapangan.Benitez, yang lebih dulu melontarkan ide salaman sebelum kedua tim bertemu di Stamford Bridge tadi malam, Minggu (17/9/2006), membuktikan niatnya. Begitu wasit meniup peluit panjang -- Liverpool kalah 0-1 -- pria Spanyol itu menghampiri bench Chelsea dan mengulurkan tangan kepada Mourinho.Mourinho meresponsnya dan juga menjulurkan tangan kanannya. Saat dua telapak tangan bertemu, Mourinho bahkan menepukkan tangan kirinya pada genggaman mereka, meskipun sambil menenteng jas.Tidak ada senyum lebar dari bibir mereka, tapi yang secuil sempat tersungging sekejap. Tidak tampak ada obrolan dari mulut mereka, tapi mungkin tetap ada sepatah-dua patah kata yang tidak bisa didengarkan siapapun kecuali mereka."Aku lebih suka bertemu dia di lorong ruang ganti supaya bisa sambil ngobrol. Tapi kami tak memperoleh kesempatan itu. Jadi kami melakukannya di lapangan," komentar Mourinho tentang momen "bersejarah" itu."Sebelumnya dia tidak senang, saya juga tidak senang. Tapi sekarang semuanya berakhir. Aku senang periode-periode bodoh itu telah selesai," tambahnya. Sementara Benitez terkesan lebih "datar". Terkesan bahwa ia melakukannya untuk orang lain. "Kami tak pernah punya masalah-masalah nafsu. Ini soal edukasi saja. Kami bersalaman dan mengirimkan sebuah pesan untuk semua orang," tukasnya.Apapun, satu hal selesai, bahwa bersalaman setelah pertandingan adalah hukum tak tertulis di kancah olahraga yang menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Soal rivalitas dalam sebuah kompetisi, tentu hal yang lumrah. "Kami tak mesti jadi teman dekat," cetus Mourinho. "Tapi kami bisa memiliki sebuah hubungan baik yang didasari pada respek dan aku mengagumi kualitasnya sebagai pelatih." (a2s/lom)










































