20 Tahun Membangun Kerajaan Setan Merah

20 Tahun Membangun Kerajaan Setan Merah

- Sepakbola
Senin, 06 Nov 2006 11:21 WIB
20 Tahun Membangun Kerajaan Setan Merah
London - Kisah Alex Ferguson dan Manchester United seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Orang mungkin hanya melihat gelimang piala dan kesuksesan yang diraihnya, tetapi segalanya diawali dengan pengorbanan, dedikasi, visi dan eksekusi yang tepat walau kadang terkesan dingin dan kejam.Ketika ia menerima pekerjaan sebagai manajer Manchester United 6 November 1986, klub itu sudah 19 tahun tak pernah memenangkan kompetisi divisi satu Inggris, sebelum era liga utama lahir. Terseok-seok di papan bawah klasemen. Bahkan sempat turun ke divisi dua di tahun 1975. Beban sejarah sebagai klub Inggris pertama yang memenangkan Piala Champions dan pernah menjadi klub terbesar Inggris terlalu berat disandang oleh siapapun manajer yang datang.Manajer-manajer hebat sudah mencoba, lalu tumbang tanpa bekas. Tetapi Alex Ferguson berbeda. Ia menganggap posisinya bukan sebuah pekerjaan tetapi misi: mengembalikan kejayaan Setan Merah bukan hanya di Inggris tetapi di Eropa. Keluarganya harus menderita ketika ia menerima pekerjaan itu. Gajinya hanya tiga perempat dari 120 ribu poundsterling yang dterima setiap tahunnya di Aberdeen. Istrinya Cathy Ferguson sempat memohon-mohon supaya ia jangan menerima pekerjaan itu.Tentu saja ia bukan manajer kacangan. Fergie datang setelah membawa Aberdeen, klub kecil di Skotlandia, menjadi juara Cup Winners Cup mengalahkan Real Madrid di final. Bukan itu saja Aberdeen mematahkan dominasi Rangers dan Celtic di liga utama Skotlandia.Usai menandatangani kontrak, Ferguson menegaskan kepada dewan direktur Man United saat itu, programnya adalah jangka panjang dan ia meminta kesabaran. Langkah pertamanya adalah menetapkan aturan mengenai cara berlatih, kedisplinan bahkan juga cara berpakaian. Ia menata ulang jaringan pemandu bakat klub di seantero negeri. Ia bangun akademi sepakbola untuk mendidik dari anak-anak hingga remaja berbakat.Perlahan tapi pasti ia menendang satu persatu pemain yang dianggapnya tak cukup layak bermain untuk klub sebesar Man United. Bahkan beberapa legenda pun tak lepas dari kebijakannya ini. Persoalannya bukan dilapangan, katanya saat itu, tetapi di luar lapangan. Harus diakui beberapa pemain top Man United saat itu dikenal sebagai peminum-peminum berat sehingga mempengaruhi budaya klub yang dianggapnya tidak professional.Ferguson memang kejam dan seorang diktator. Pemain kesayangan bisa saja dipujanya tetapi begitu dianggap tidak lagi menjadikan klub sebagai kepentingan utama mereka, atau tidak lagi maksimal, pastilah akan ditendang keluar. Tidak peduli apakah itu pemain besar seperti David Beckham, Roy Keane, Jaap Stam, Ruud van Nistelrooy untuk menyebut beberapa. Banyak bekas pemain yang tidak suka dengan kebijakannya ini. Tetapi tak kurang mereka yang bentrok dengan dirinya dibelakangan hari mengakui kebenaran langkah Ferguson itu.Namun sisi Ferguson bukan hanya kejam dan diktator. Ia juga mempunyai rasa kasih yang berlebih untuk anak didiknya. Ia sering dikatakan berperan seperti bapak kepada mereka, selalu terbuka dan memberi waktu kepada pemain-pemain muda untuk berkeluh kesah dari persoalan pribadi hingga soal-soal profesional. Tak heran kalau ia hafal nama anak istri, orang tua, bahkan rekan-rekan pribadi para pemainnya. Ia rajin menyambangi anak-anak berbakat dan menonton mereka bermain. Tak heran kalau ketiga anaknya sendiri sering protes ia lebih menyayangi pemain-pemain Man United ketimbang mereka.Ferguson membutuhkan waktu empat tahun untuk memenangkan piala pertamanya: Piala FA 1990. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dewan direktur sebenarnya hampir memecatnya kalau saja ia tak memenangkan piala itu. Tahun berikutnya ia memenangkan Cup Winners Cup dengan menundukkan Barcelona di Rotterdam. Dan di kompetisi 1992/1993 untuk pertama kalinya Man United menduduki singasana tertinggi persepakbolaan Inggris setelah 26 tahun. Catatan selanjutnya adalah kegelimangan zaman keemasan termasuk menjadikan Man United klub pertama dalam sejarah yang meraih treble: meraih Piala FA, kompetisi liga utama dan Piala Champions dalam tahun yang sama.Ia sudah 65 tahun sekarang tetapi jangan tanya kapan akan pensiun. Belum lama ini ia marah-marah kepada media Inggris karena menyarankannya untuk mundur. "Mestinya mereka bersyukur ada orang setua saya masih mau bekerja, bukannya malah disuruh mundur," katanya ketus. (lza/lom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads