Apa yang Terjadi Wenger?

Apa yang Terjadi Wenger?

- Sepakbola
Jumat, 01 Des 2006 09:50 WIB
Apa yang Terjadi Wenger?
London - Sangat mudah untuk untuk menilai sesorang luar biasa --hebat-- ketika yang bersangkutan menunai sukses demi sukses. Tetapi kualitas keluarbiasaan baru benar-benar teruji ketika sesorang bisa bangkit dari krisis untuk kembali menunai kesuksesan lagi.Sejak kedatangannya ke Inggris tahun 1996 Arsene Wenger seperti orang tidak pernah bisa berbuat salah. Arsenal diubahnya dari tim dengan gaya permainan yang menjemukan, julukan Arsenal sebelumnya adalah boring-boring Arsenal karena seringnya menang 1-0 dengan permainan ultra defensifnya, menjadi sebuah tim dengan permainan super cantik nan menggiurkan.Sukses demi sukses diraihnya. Sebelum Chelsea dengan Roman Abramovich dan Jose Mourinho berkuasa, Arsenallah satu-satunya klub yang mampu menyaingi kedigdayaan Manchester United. Tercatat dua kali di era liga utama klub ini memenangkan gelar double, juara liga dan Piala FA dalam tahun yang sama, tahun 1998 dan 2002. Arsenal mencatatkan diri sebagai klub dengan rekor tak terkalahkan selama 49 pertandingan liga utama tanpa putus. Tahun lalu untuk pertama kalinya dalam sejarah Arsenal mampu masuk ke final Piala Champion walau kemudian kalah dari Barcelona.Tetapi di ulangtahunnya yang ke-10 di Arsenal tiba-tiba Arsene Wenger mengalami krisis yang belum pernah dialami sebelumnya. Baru separuh liga utama berputar mereka terpuruk di posisi enam dan sudah ketinggalan 16 angka dari pimpinan klasemen sementara. Tiga kali menelan kekalahan. Empat kali seri. Yang menyesakkan, kekalahan maupun hasil seri mereka terima dari klub-klub kecil yang dimasa lalu dengan mudah mereka luluh lantakkan.Banyak orang Inggris, kecuali pendukung Arsenal tentunya, yang diam-diam tertawa senang dengan krisis yang dialami Wenger dan Arsenalnya belakangan ini. Wenger dianggap pongah dan tidak pernah bisa menerima kekalahan dengan jantan. Dan itu dianggap telah menular kepada pemain-pemainnya.Kalau timnya kalah, Wenger tidak pernah mau mengakui lawan bermain lebih baik. Ada saja alasannya kadang-kadang tidak masuk akal. Entah wasit yang tidak jeli, lawan lebih mengandalkan fisik, lawan lebih banyak bertahan, lapangan yang buruk, bahkan tuduhan jadwal main yang tidak adil.Sebenarnya kalau mau jujur pertanda bahwa Arsenal sedang dalam kurva yang menurun sudah mulai terlihat sejak tahun lalu. Benar bahwa Arsenal mampu masuk ke final Piala Champions Eropa, tetapi permainan mereka sebenarnya tidak meyakinkan. Di liga utama mereka sebenarnya terseok-seok dan dengan susah payah merebut posisi keempat, cukup untuk bisa lolos ke kompetisi Piala Champions tahun ini.Mulai kompetisi tahun ini Arsenal ditinggalkan pemain-pemain besar dan berpengalamannya. Tidak ada lagi Dennis Bergkamp, Robert Pires, Sol Campbell maupun Ashley Cole. Grendel lapangan tengah, Patrick Vieira juga sudah hengkang tahun lalu. Semuanya digantikan pemain muda yang penampilan masih belum konsisten. Panas di satu pertandingan, dingin di pertandingan berikutnya.Thierry Henry adalah satu-satunya bintang yang masih bertahan. Ia adalah pemain hebat. Tetapi terbukti sepakbola adalah permainan tim. Sehebat apapun pemain, kecuali kalau kebetulan pemain tersebut bernama Maradona, akan sulit untuk mengangkat tim sendirian.Tim Arsenal yang sekarang ini adalah sebuah tim dalam transisi. Karenanya sebenarnya bisa dimaklumi kalau mereka belum konsisten. Tetapi sekadar untuk mengakui bahwa mereka sedang dalam transisipun Wenger terlalu tinggi hati. Sehingga Wenger seperti menggali kuburnya sendiri, menciptakan ilusi dan harapan yang terlalu tinggi bagi para pendukungnya, sementara di lapangan kenyataan berbeda.Mungkin Wenger terbebani persaingan dengan Alex Ferguson dengan Manchester Unitednya yang tiga kali membangun tim baru dengan sukses dan masa transisi yang relatif mulus. Tetapi Wenger lupa Manchester United dibangun dengan anyaman dasar pemain muda dari Inggris Raya sendiri. Dan banyak diantara pemain muda Manchester United adalah hasil didikan dari akademi klub yang bersangkutan. Lebih lagi mereka adalah pendukung klub itu, yang seandainya tidak menjadi pemain akan menjadi penonton setia Manchester United. Sementara pemain muda Arsenal hampir semuanya asing. Semangat yang ada juga menjadi berbeda.Atau mungkin juga Wenger membayangkan transisi akan semulus ketika ia ditinggalkan the famous four , empat pemain belakang yang diwarisinya dari jaman boring boring Arsenal: Tony Adams, Steve Bould, Lee Dixon, Nigel Winterbourn dan juga sebenarnya Martin Keown. Tetapi, sekali lagi, Wenger lupa, mereka ini tidak mundur bersama-sama tetapi satu persatu seusai Arsenal memenangkan doublenya tahun 2002. Wenger saat itu bisa satu per satu mencari penggantinya.Sekali lagi, Wenger adalah manajer yang hebat. Itu tidak perlu dibantah. Tetapi krisis belakangan ini adalah ujian Wenger terbesar. Kalau ia mampu membawa Arsenal keluar dari krisis dengan mulus, ia layak dapat bintang. (lza/key)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads