Kacamata Tuan Wenger
Sabtu, 03 Mar 2007 11:28 WIB
London - Kearifan tidaklah selalu harus berbanding lurus dengan kecerdasan. Tidaklah juga berbanding lurus dengan kepiawaian berfikir. Bahkan yang mengejutkan, juga tidak berbanding lurus dengan kepemimpinan.Kearifan mungkin mempunyai derajat unsur ketiganya tetapi jelas bukan karena disebabkan oleh ketiganya. Setidaknya kalau berkaca pada bagaimana kiprah pelatih Arsenal, Arsene Wenger, di liga utama Inggris selama ini.Kemampuan Wenger untuk meracik satu tim dengan permainan yang menawan tidak perlu diragukan lagi. Jalinan kerjasama tim, dipadu dengan ketrampilan tinggi para pemainnya, membuat Arsenal menjadi salah satu tim di Eropa yang nikmat untuk dilihat. Kejelian Wenger untuk mengasah pemain muda juga melegenda. Pemandu bakat yang ditebar Wenger mampu menemukan bakat hingga ke pelosok antah berantah persepakbolaan untuk ditampilkan di pentas persepakbolaan Inggris.Ia juga merevolusi pemahaman akan apa yang disebut sehat dalam dunia sepakbola Inggris. Sebagai contoh, ia memperkenalkan penakaran jumlah kalori yang harus diserap para pemain bola, mengatur pola makan maupun jenis makanan yang harus dikonsumsi, tekhnik latihan yang sesuai dengan fisik pemain, pola istirahat yang benar dalam kaitan dengan relaksasi fisik. Ia juga sebisa mungkin menjaga agar pendidikan menjadi bagian penting dalam kehidupan pemain. Otak yang tajam bagi Wenger sama pentingnya dengan ketrampilan fisik.Yang lebih hebat lagi, Wenger ikut menggagas Stadion Emirate hingga ke rincian bentuk stadion, agar penonton bisa maksimal menikmati pertandingan, sampai ke ketebalan rumput untuk memaksimalkan gaya permainan yang ingin ia terapkan.Mengaku atau tidak, banyak pelatih di Inggris ini belajar dari Wenger. Para penggemar bola memujinya untuk hal ini. Para pemain bola, terutama yang pernah bersinggungan dengan Wenger tak henti mengaguminya.Kesuksesan Arsenal selama sepuluh tahun terakhir adalah karena Arsene Wenger. Total Arsene Wenger. Eksistensi Arsenal sebagai sebuah klub adalah wujud visi Arsene Wenger akan sebuah klub.Disinilah persoalan muncul. Kalau filosof Prancis abad 17, Rene Descartes memperkenalkan kalimat cogito ergo sum, aku berfikir karena itu aku ada (eksis), Wenger mungkin berkata aku mempunyai visi karena itu aku ada. Malah mungkin Wenger menariknya lebih jauh lagi, aku mempunyai visi dan visiku adalah benar karena itu aku ada.Yang harus digarisbawahi di sini adalah anak kalimat visiku adalah benar. Berulangkali Wenger terbentur pada persoalan ini. Cara Wenger berkomentar, menilai, dan memahami permainan maupun dunia persepakbolaan pada umumnya berdasar pada anak kalimat visiku adalah benar ini.Padahal tidak ada visi sehebat apapun yang bisa memonopoli kebenaran. Seperti halnya tidak satu sistem nilai kehidupanpun yang mampu memonpoli kebenaran di dunia ini. Kebenaran adalah sebuah relativitas yang lentur.Kalau Arsenal kalah misalnya maka Wenger akan mengajukan sekian banyak alasan kecuali mengakui bahwa timnya memang kalah. Entah itu wasit yang jelek memimpin pertandingan, lawan yang menekankan pertahanan, lawan yang bermain keras, lapangan yang jelek, jadwal pertandingan yang terlalu padat, klub lain lebih kaya atau apapun juga. Cari sebuah alasan, Wenger akan mampu membuatnya masuk akal dan membuat Arsenal korban sebuah ketidakdilan.Setiap kali Arsenal terjebak dalam situasi sulit berhadapan dengan otoritas sepakbola, Wenger dengan segala kecerdasannya sering mengesankan adanya sebuah konspirasi (imajiner) yang seolah ingin menahan laju kesuksesan Arsenal.Sebaliknya kalau Arsenal diuntungkan dalam sebuah pertandingan maka Wenger akan berkomentar seolah itu sebuah kelayakan karena Arsenal adalah sebuah wujud bagi bagaimana sebuah tim seharusnya bermain, bagi bagaimana sebuah klub mestinya dijalankan.Tentu tidak semua pernyataan Wenger adalah seperti ini. Wenger juga seorang pemikir yang banyak memberi masukan pada otorita sepakbola akan nilai-nilai baru yang bermanfaat dalam menjalankan kehidupan persepakbolaan di Inggris. Tetapi kecenderungan miopik Wenger harus diakui sudah sampai tahap yang menggelikan dan kadang membuat penggemar bola dalam hati berkata, "Sudahlah..."Yang harus dipahami oleh Wenger adalah bahwa visi yang dibawa olehnya telah membuat Arsenal menjadi klub yang disegani, hebat, dan mampu menampilkan permainan menawan. Tetapi ada juga klub lain dengan visi yang berbeda. Ada manajer sepakbola lain yang mempunyai visi yang berbeda (yang bahkan mungkin lebih sukses dari Wenger-walau kesuksesan juga relatif adanya).Kearifan untuk menerima bahwa dewa sepakbola tidak pernah memberikan hak prerogatif kebenaran kepada visi tertentu itulah yang dibutuhkan. Kearifan dalam kekalahan sangat diperlukan. Kearifan dalam kemenangan harus dijaga. Kearifan dalam hidup adalah sebuah kemutlakan. Kearifan itu...Tuan Wenger.... (lza/din)











































