Ini Egoku, Mana Egomu?
Jumat, 16 Mar 2007 07:48 WIB
London - Banyak orang tak sadar bahwa persepakbolaan Inggris sedang memasuki sebuah evolusi -- mungkin juga revolusi, sebetulnya. Chelsea berada di garis terdepan dalam hal ini. Dan perseteruan antara Jose Mourinho dan Roman Abramovich adalah pemantiknya. Kebenaran perseteruan itu sendiri tidak pernah termapankan. Mourinho tidak pernah secara tegas mengatakannya, sementara Abramovich bak patung bisu, tak bersuara. Tetapi kalau berpegang pada rumor dan gosip yang terdokumentasikan dari klub di London Barat itu, maka perseteruan itu benar adanya.Selama ini paradigma hubungan antara pemilik klub dan manajer tim adalah kapitalis-mutualistik. Artinya, selama manajer sukses di lapangan, posisinya akan aman dan bergaji cukup. Adalah tugas bagian komersial klub untuk mengeksploitir kesuksesan di lapangan menjadi keuntungan finansial.Kesuksesan di lapangan akan menjadi basis pemasaran untuk menggaet penggemar baru dan menjual produk dari yang namanya merchandise, sponsor hingga hak jual tayang televisi. Kehidupan finansial klub karenanya banyak tergantung dari kiprah manajer ini.Pemilik biasanya tidak ingin mengotak-atik posisi manajer yang sukses karena semakin sukses ia, semakin menguntungkan buat pemilik tadi. Semakin sukses tim di lapangan semakin besar pundi-pundi masuk ke kantong pemilik klub.Tetapi Jose Mourinho berbeda, Roman Abramovich berbeda, begitupun Chelsea. Walau belum lama meneguk manis pahitnya dunia manajerial, Mourinho telah mendapat sukses yang belum tentu didapat oleh kebanyakan manajer yang telah puluhan tahun berkiprah. Statusnya di Porto dengan memenangkan dua kompetisi liga utama Portugal, satu Piala UEFA, dan satu tropi Liga Champions, dalam waktu tiga tahun membuatnya layaknya dewa. Walau hanya manajer tim dan bukan pemilik klub, tetapi praktis ialah orang nomor satu di Porto. Sedemikian percaya dirinya sehingga ia berani mengatakan bahwa di Porto ialah otoritas tertinggi setelah Tuhan. Kesuksesannya membuat pemilik klub nyaris menjadi tukang stempel yang hanya bisa mengiyakan ego Mourinho.Besarnya otoritas ini membuat Mourinho gagap posisi ketika pindah ke Chelsea. Sukses membawa Chelsea dua kali berturut-turut menjadi juara kompetisi liga utama, ilusi sebagai orang nomor satu di klub muncul lagi.Bedanya kini Mourinho kena batunya karena harus berhadapan dengan Abramovich. Ia menantang berkelahi orang yang salah. Orang boleh mempertanyakan sejarah masa lalu Abramovich atau mengenai keabsahan uang yang didapatnya, tetapi sejarah menunjukkan orang seperti Abramovich tidak akan berada di posisinya, yang sekarang kalau tidak mempunyai ego (rasa keakuan) yang di atas rata-rata. Mourinho boleh merasa ialah orang nomor satu. Tetapi kalau mulai bertindak diluar garis maka Abramovich akan dengan tegas menunjukkan siapa sebetulnya orang nomor satu di klub sebenarnya. Bagi Abramovich, Mourinho hanyalah salah satu pegawainya, seberapa suksesnya ia. Memiliki pegawai nomor satu di bidangnya bukanlah hal yang luar biasa untuk Abramovich. Bukankah ia juga memperkerjakan Peter Kenyon, orang yang mengeksploitir kesuksesan Manchester United di lapangan dan menjadikan klub itu terkaya di dunia selama tahun 1990-an hingga awal 2000-an?Yakinlah bahwa bukan sekadar berego besar, tetapi pastilah Abramovich orang yang cerdik. Mampu mengumpulkan kekayaan hingga milyaran poundsterling tidak hanya dibutuhkan ego tetapi juga kecerdikan (dan mungkin kelicikan). Entah ia suka sepakbola atau tidak, tetapi bisa dipastikan Abramovich tidak membeli Chelsea untuk sekadar permainan. Ia pasti telah berhitung mengenai untung rugi, arus keluar masuk keuangan dalam jangka pendek ataupun panjang, mengenai modal yang harus ia tanam maupun keuntungan yang akan ia dapat.Kesuksesan Mourinho mungkin telah membantu program Abramovich untuk meraup keuntungan yang ia inginkan dari Chelsea. Namun bukan berarti Mourinho faktor yang tidak tersingkirkan. Keinginan Mourinho untuk membeli pemain tertentu jelas menunjukkan bahwa modal Abramovich merupakan salah satu syarat dasar kesuksesan Mourinho. Bagi Abramovich modal-lah yang utama, bukan Mourinho. Mengganti Mourinho selalu bisa dicari. Kalaulah harus meramal akhir dari perseteruan antara Mourinho dan Abramovich akan sangat tidak mengagetkan kalau Mourinho harus angkat kaki dari Chelsea. Mourinho boleh saja nanti mengaku tidak berkeberatan karena kompensasi yang diterimanya toh cukup untuk membuatnya segera pensiun dengan kehidupan yang mewah. Tetapi ini akan membuktikan Mourinho hanyalah seorang pegawai. Para pemilik klub di Inggris, dan juga para manajer tentunya, pasti mengamati dari dekat apa yang sedang bergolak di Chelsea ini. Apalagi kini semakin banyak klub Inggris dibeli oleh pemilik modal dari luar Inggris. Mereka pasti ingin melihat siapa yang akan memenangkan perseteruan antara Mourinho dan Abramovich ini. Pemilik modal atau pegawai yang mampu memberi andil bagi kemakmuran klub (perusahaan)? Apapun langkah yang diambil Abramovich pasti akan menjadi bahan pertimbangan bagi pemilik klub lain dalam menghadapi situasi serupa. Hubungan kapitalis-mutualistik antara pemilik klub (modal) dan manajer mungkin harus didefinisikan ulang atau dikaji ulang (atau terserah apa kata pemilik modal!). (a2s/a2s)











































