Valdano dan Sepakbola Inggris
Kamis, 10 Mei 2007 02:02 WIB
London - Banyak yang menganggap kompetisi sepakbola Inggris adalah yang paling atraktif di dunia. Tapi di mata Jorge Valdano, sepakbola Inggris mematikan keindahan dan ketrampilan.Valdano kalau Anda ingat adalah bekas direktur teknis dan manajer Real Madrid, dan bersama Maradona membawa Argentina menjadi juara dunia 1986. Ia juga mempunyai reputasi sebagai seorang intelek dan filosof bola. Komentar-komentarnya didengar dan dicermati oleh kalangan bola.Sebetulnya bukan liga Inggris keseluruhan yang ia kritik tetapi hanya Liverpool dan Chelsea. Ia menulis di harian terbesar Spanyol, Marca, setelah menyaksikan semifinal Liga Champions antara The Reds versus The Blues.Valdano menulis: "Sepakbola adalah sebuah subyektivitas tanpa tara, dan untuk yang satu ini Anfield tidak terkalahkan. Taruhlah kotoran di sebuah tongkat dan ketika seluruh stadion mengatakan kotoran dan tongkat itu sebuah karya seni, yakinlah akan ada yang percaya. Tetapi bagi saya itu tetaplah tongkat dan kotoran."Ia kemudian membahas pertandingan itu sendiri. "Chelsea dan Liverpool sepertinya bentuk paling nyata dari arah sepakbola saat ini: sangat intens, sangat kolektif, bersandar pada taktik kaku, mengandalkan fisik, dan langsung ke sasaran."Kalau Anda menunggu, "Umpan-umpan pendek, jangan harap. Gocekan bola, lupakan saja. Ritme permainan yang berubah-ubah, itu hanya mimpi. Permainan satu dua yang indah, ketrampilan memainkan bola, Anda terlalu banyak meminta dari permainan mereka. Kontrol permainan dan keseriusan permainan menafikan kreativitas dan mematikan keindahan bermain bola.""Kalau Didier Drogba adalah pemain tercemerlang di lapangan, itu karena ia berlari paling cepat, meloncat paling tinggi, dan paling keras menabrak orang. Intensitas permainan membuat pemain berketrampilan tinggi seperti Joe Cole mengalami disorientasi.""Kalau sepakbola arahnya seperti yang dilakukan Chelsea dan Liverpool, maka selamat tinggal-lah ekspresi kecerdasan dan bakat yang selama ini menjadi bumbu permainan sepakbola."Valdano kemudian berspekulasi mengapa permainan Chelsea dan Liverpool seperti itu. "Baik Mourinho maupun Benitez mempunyai kesamaan: ingin mengontrol segalanya dan ingin menggapai kejayaan yang tak kunjung terpuaskan."Mengapa? "Karena keduanya tidak pernah menggapai puncak sebagai pemain. Itu membuat keduanya memusatkan energi mereka untuk melatih. Mereka yang tidak berhasil sebagai pemain tidak akan mempercayai bakat yang dimiliki oleh pemain. Mereka tidak percaya bahwa improvisasi di lapangan akan memenangkan pertandingan. Singkat kata, tipe permainan yang ditawarkan Mourinho dan Benitez adalah tipe permainan di mana pemain tidak berbakat seperti Moruniho dan Benitez akan bisa bermain dan sukses."Mungkin apa yang dikemukakan oleh Valdano ada benarnya. Tetapi Valdano sendiri adalah produk dari jamannya. Bermain bersama Maradona tentu mempengaruhi pandangannya akan sepakbola. Bakat Maradona membuat taktik tidak ada gunanya dan improvisasi adalah segalanya.Filosofi itu pula yang membuat ia mengumpulkan pemain penuh bakat ketika menjadi direktur teknis di Real Madrid. Dengan Zidane, Ronaldo, Raul Roberto Carlos dan sederet pemain hebat lainnya, Madrid tidak memerlukan taktik dan permainan kaku. Segalanya mengalir seperti sungai yang tak terbendung. Pelatihpun tidak perlu yang utama. Dan Real Madrid menunai sukses. Tetapi kembali pada adagium awal yang ia tulis, sepakbola adalah subyektivitas tanpa tara. Kalau ada cara lain untuk menunai sukses, kenapa tidak?Publik sepakbola Inggris juga bertanya-tanya, mengapa ia harus mengritik sepakbola Inggris? Bukankah kritik semacam itu seharusnya ditujukan kepada persepakbolaan Italia? Semua orang di daratan Eropa tahu, gaya permainan sepakbola Italia layaknya permainan catur: lambat, penuh perhitungan taktis, alot, dan menekankan kemenangan ketimbang permainan indah. Tepat untuk kritiknya. (lza/a2s)











































